Ali Usman Ahim: Loyalis Prabowo Maju Asprov PSSI NTB
HARIAN PELITA — Dinamika menuju pemilihan Ketua Asprov PSSI NTB tahun ini semakin memanas. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, satu nama mencuri perhatian dengan gagasan paling terukur dan berorientasi masa depan: Ali Usman Ahim.
Tokoh muda dengan rekam jejak panjang di dunia organisasi dan politik ini tampil membawa visi besar, mendorong sepakbola NTB menuju panggung nasional dan menjadikannya kekuatan baru di Indonesia timur.
Ali menegaskan bahwa keputusannya maju bukan didorong kepentingan politik, tetapi lahir dari kegelisahan yang sama dengan para pecinta sepak bola NTB: potensi besar yang tidak pernah dikelola serius.
Menurutnya, talenta di NTB berlimpah, tetapi tidak mendapatkan jalur pembinaan yang rapi dan berkelanjutan. Karena itu, bila dipercaya memimpin, ia akan menyiapkan arsitektur pembinaan usia dini secara menyeluruh.
“Pembinaan adalah pondasi. Tanpa pondasi, kita hanya membangun mimpi. NTB butuh banyak SSB yang aktif, berkualitas, dan didukung infrastruktur latihan yang memadai,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Visi tersebut bukan sebatas konsep futuristik. Ali menyiapkan langkah konkret yaitu : Memperkuat dan memeratakan SSB di seluruh kabupaten dan kota.
Menata ulang kompetisi lokal agar berlangsung rutin, terukur, dan menjadi jalur seleksi resmi bakat muda, meningkatkan kualitas perangkat pertandingan melalui pelatihan dan sertifikasi, menghadirkan tata kelola organisasi yang transparan, profesional, dan bebas kepentingan sempit.
Ia menilai, persoalan besar sepak bola NTB selama ini bukan pada minimnya minat atau pemain berbakat, melainkan ketiadaan manajemen yang mampu mengorganisasi potensi tersebut.
“Kita harus akhiri cara kerja sporadis. Sepak bola tidak bisa berjalan hanya dengan semangat; ia membutuhkan struktur,” tegasnya.
Lebih jauh, Ali menegaskan target besar yang menjadi tolok ukur kinerja pengurus baru: NTB harus memiliki klub yang mampu menembus Liga 2 pada 2027.
Target itu, menurutnya, bukan isapan jempol. Dengan kompetisi teratur, pembinaan berjalan baik, dan manajemen modern, klub-klub di NTB punya peluang besar bersaing di level nasional.
“Kalau kompetisi kuat, bibit tumbuh, dan organisasi jujur bekerja, mustahil kita tidak bisa masuk Liga 2. NTB punya semuanya, yang kurang hanya kemauan untuk menata,” ujar Ali.
Dukungan dari mayoritas pemilik suara di Pulau Lombok memberi sinyal bahwa gagasan Ali diterima sebagai angin segar. Namun ia menegaskan bahwa perubahan tidak boleh hanya bertumpu pada elite, tetapi harus didorong oleh partisipasi masyarakat sepak bola, pelatih, SSB, klub, hingga suporter.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan kuat:
“Kita ingin sepak bola NTB dihormati, bukan dikasihani. Kita ingin berdiri di panggung nasional, bukan jadi penonton. Ini saatnya bergerak bersama dan sepak bola NTB harus “road to bussines” dengan memaksimalkan dukungan publik, baik para pecinta sepak bola, profesional dan pengusaha yg mana dukungan tersebut dapat diakses oleh semua club secara berkeadilan. ●Redaksi/Pan
