2026-01-01 21:08

Ibu Cicih Terjebak Rentenir Melawan Gagal Ginjal Pengobatan Putrinya, Harapkan Bantuan Pemda Ciamis

Share

HARIAN PELITA –  Berbagai keluhan penyakit diderita pasien yang  melakukan perawatan maupun pengobatan di RSUD Ciamis, tersimpan sebuah perjuangan hidup mati menyayat hati. 

Siti Nurlela, seorang gadis seharusnya menikmati masa mudanya, kini harus terbaring lemah berjuang melawan penyakit gagal ginjal kronis.

Namun beban berat tidak hanya dirasakan Siti, melainkan juga sang ibu, Ibu Cicih harus memutar otak demi menyambung napas putrinya, Rabu (31/12/2025) lalu.

Cicih, warga Desa Nasol, mengungkapkan betapa sulitnya kondisi ekonomi keluarga di tengah biaya pengobatan mencekik.

Meski perawatan rumah sakit terbantu oleh BPJS Mandiri, ada kebutuhan vital yang tidak sepenuhnya tertutup dan harganya sangat mahal bagi rakyat kecil yakni oksigen.

Bagi Siti Nurlela, oksigen bukan lagi sekadar udara gratis, melainkan barang mewah harganya mencapai jutaan rupiah. Ibu Cicih menuturkan bahwa satu botol tabung oksigen besar dihargai sekitar Rp1,5 juta.

“Untuk isi ulangnya saja Rp150 ribu per hari. Itu hanya bertahan dari waktu Ashar sampai jam 9 pagi keesokan harinya. Sorenya, saya harus beli lagi,” ungkap Ibu Cicih mata berkaca-kaca saat ditemui di depan RSUD Ciamis.
●Terjebak jeratan rentenir
Pekerjaan Ibu Cicih ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai buruh serabutan membuat mereka tak punya pilihan lain. Demi memastikan Siti tetap bisa bernapas, Ibu Cicih mengaku terpaksa meminjam uang ke rentenir.

“Kekurangan biaya Pak. Gak ada uang. Akhirnya pinjam ke rentenir karena sudah tidak ada jalan lain,” tuturnya lirih.

Dalam sebulan, biaya untuk oksigen saja bisa mencapai lebih dari Rp4,5 juta. Angka ini belum termasuk iuran BPJS Mandiri sebesar Rp150 ribu untuk empat anggota keluarga harus ia bayar setiap bulannya agar layanan kesehatan tidak terputus.

●Belum tersentuh bantuan Pemerintah
Ibu Cicih mengaku hingga saat ini keluarganya belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, baik itu berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai) maupun BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai).

Kini, harapan satu-satunya bagi Ibu Cicih adalah adanya uluran tangan dari para dermawan atau perhatian khusus dari pemerintah daerah.

Ia tidak meminta kemewahan, ia hanya ingin anaknya bisa terus bernapas dan mendapatkan perawatan yang layak tanpa harus terus-menerus dikejar utang. “Harapan saya, pengen ada bantuan. Pengen oksigen, itu saja,” pungkasnya. ●Redaksi/Lili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *