Mengenal Islam di Tiongkok Melalui Jalur Perdagangan
HARIAN PELITA — Islam di Tiongkok adalah agama minoritas yang telah ada sejak abad ke-7 Masehi, dibawa melalui jalur perdagangan.
Populasi Muslim diperkirakan 17-25 juta jiwa, mayoritas dari etnis Hui dan Uighur, terkonsentrasi di wilayah barat laut seperti Xinjiang, Ningxia, Gansu, dan Qinghai, serta memiliki sejarah panjang dan komunitas yang beragam.

●Sejarah dan penyebaran awal
Awal Mula: Islam masuk Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618-907 M) melalui pedagang Persia, Arab, dan India, serta misi diplomatik.
Sosok Penting: Sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqqas, dipercaya sebagai salah satu pembawa Islam dan membangun Masjid Huaisheng, salah satu masjid tertua di dunia, di Chang’an (sekarang Xi’an).
Perkembangan: Berkembang pesat di masa Dinasti Ming (1368-1644 M) saat Muslim mendominasi perdagangan maritim.
●Kelompok etnis dan wilayah
Etnis Terbesar: Suku Hui (tersebar luas) dan Uighur (terkonsentrasi di Xinjiang).
Wilayah Mayoritas: Xinjiang (populasi Uighur signifikan), Ningxia, Gansu, dan Qinghai (dikenal sebagai “Sabuk Quran”).
Kelompok Lain: Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Tatar, dan Uzbek.
●Karakteristik komunitas Muslim
Integrasi Budaya: Muslim Tiongkok banyak mengadopsi nama marga Tiongkok seperti Mo (Muhammad), Mai (Mustafa), dan Mu (Masoud).
Terminologi: Menggunakan istilah Qingzhen (清真) yang berarti “kesucian benar” untuk merujuk pada Islam, makanan halal (qingzhen cai), dan masjid (qingzhen si).
Pusat Keagamaan: Terdapat ribuan masjid, dengan konsentrasi tinggi di Xinjiang dan provinsi barat laut lainnya.
●Kondisi saat ini
Populasi: Diperkirakan 17-25 juta Muslim di Tiongkok, mayoritas dari 55 etnis minoritas yang diakui, 10 di antaranya mayoritas Muslim.
Kehidupan Beragama: Ada komunitas Muslim yang sangat taat, seperti di Shadian, Yunnan, di mana suasana keagamaan kuat terasa. ●Redaksi/HP
