2026-01-13 16:28

Mengayuh 60 Kilometer demi Kumisah: Ketika Negara Datang Sepeda dan Sepasang Roda Harapan

Share

HARIAN PELITA — Di Lombok Utara, negara hadir lewat kayuhan sepeda, menempuh jarak sekitar 60 kilometer, demi satu tujuan yang sederhana namun bermakna: memastikan seorang gadis disabilitas bernama Kumisah kembali bisa bergerak dan tersenyum.

Kumisah, warga Dusun Terbis, Desa Andalan, Kecamatan Bayan, sejak lahir hidup dengan keterbatasan fisik, kini akhirnya memiliki alat bantu yang selama ini hanya bisa ia harapkan: sebuah kursi roda.

Bantuan itu diserahkan langsung Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta datang bersama pejabat utama Polres dan Bhayangkari melalui program Gowes Kamtibmas, Sabtu ( 10/1/2026).

Perjalanan menuju Desa Andalan bukan perjalanan singkat. Rute ini menjadi titik ke-31 dari rangkaian Gowes Kamtibmas yang digagas Kapolres Lombok Utara untuk menyambangi desa-desa, mendengar langsung denyut persoalan warga, sekaligus menghadirkan negara dalam wujud yang lebih dekat dan membumi.

“Begitu kami mendengar kabar tentang Kumisah, kami merasa ini tidak cukup hanya disampaikan lewat bantuan administrasi. Kami ingin datang, melihat, dan memastikan langsung,” kata AKBP Agus Purwanta di sela kegiatan.

Ketika kursi roda itu akhirnya diserahkan, senyum Kumisah pecah. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya alat bantu. Namun bagi Kumisah, dua roda itu adalah pintu menuju dunia yang selama ini terasa terlalu sempit dan jauh.

Dalam kunjungan itu, Polres Lombok Utara juga menyalurkan 50 paket sembako kepada warga rentan serta mengerahkan Klinik Polres untuk memberikan layanan kesehatan gratis kepada ratusan warga setempat.

“Keamanan itu bukan hanya soal tidak adanya kejahatan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat merasa diperhatikan dan dilindungi, termasuk dari sisi kesehatan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Kegiatan itu juga menampilkan wajah lain dari pelayanan publik: pemberdayaan ekonomi.

Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny Heny Agus Purwanta meninjau langsung aktivitas UMKM Desa Andalan. Ia tidak datang sekadar melihat, tetapi mencermati satu per satu persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian pelaku usaha kecil: mulai dari penghitungan biaya produksi yang belum akurat, pencatatan keuangan yang belum tertib, hingga penentuan harga jual yang belum mencerminkan struktur biaya yang sehat.

“Kalau ingin UMKM naik kelas, yang dibenahi bukan hanya kemasan, tetapi juga cara mereka menghitung dan mencatat usahanya,” kata Ny. Heny.

Ia juga mendorong keterlibatan mahasiswa KKN untuk membantu Desa Andalan membangun website desa dan menciptakan logo UMKM yang lebih eye-catching sebagai bagian dari strategi branding produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Langkah kecil di desa terpencil itu sesungguhnya memotret pendekatan besar: negara yang tidak menunggu laporan di meja, tetapi datang menjemput persoalan di lapangan.

Gowes Kamtibmas yang digagas Polres Lombok Utara kini bukan lagi sekadar agenda olahraga atau patroli simpatik. Ia telah menjelma menjadi model kepemimpinan lapangan—menggabungkan keamanan, kemanusiaan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu tarikan napas kebijakan.

Bagi Kumisah, hari itu mungkin akan selalu diingat sebagai hari ketika hidupnya berubah arah.
Bagi negara, hari itu seharusnya menjadi pengingat: bahwa kehadiran paling bermakna sering kali tidak datang dengan suara keras, melainkan dengan keringat, empati, dan keberanian untuk turun langsung ke jalan. ●Redaksi/Pan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *