Parkir Seenaknya, Mobil MBG Bikin Macet Jalan H Sibi Jagakarsa
HARIAN PELITA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bikin polemik. Selain masalah kualitas makanan yang kerap dikeluhkan, kini muncul protes terkait penggunaan jalan umum menjadi lahan parkir mobil MBG Jagakarsa 008 yang berlokasi di RT001/RW002, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Pasalnya, keberadaan mobil dapur MBG tersebut mengganggu arus lalu lintas dan berpotensi merusak lingkungan. “Setelah beroperasi, kami sudah melakukan beberapa kali protes.
Namun, ditanggapi dengan pemasangan (tulisan) dilarang parkir sepanjang Jalan H. Sibi,” kata Irwan Bhakti, warga setempat, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa setelah dapur MBG beroperasi, sejumlah mobil operasional dan karyawan diparkir di depan rumah tersebut. Akibatnya, hal itu mengganggu keluar masuk mobil para tetangga. “Manuver kami jadi terganggu,” katanya.
MBG tersebut beroperasi sejak Rabu, 28 Januari 2026. Sebelumnya dilakukan test food dan syukuran untuk acara itu pada Jumat, 23 Januari 2026.
Menurut Irwan, beberapa tetangga seperti Ospian Marlina, Indra Darmawan, dan Riyanti Rafli yang rumah mereka berhadapan langsung dengan dapur MBG telah menegur pengelola karena jalan umum dipenuhi kendaraan operasional. Dua kendaraan besar diparkir di area dalam, sedangkan ambulans parkir di pinggir jalan.
Tokoh Masyarakat Jagakarsa, KH Abdullah Hasan menilai ,tindakan menutup jalan umum untuk parkir adalah perubahan zalim. “Ini milik umum, bukan milik pribadi.Itu kan bukan lahan dia [pengelola dapur] tapi mengapa sepanjang jalan warga tak boleh memarkir mobil mereka?”
Akibat penutupan tersebut, beberapa warga justru parkir di depan masjid Al Ikhwan. Padahal, area itu digunakan untuk mereka yang ingin beribadah di masjid tersebut.
Terkait hal itu, FB, Ketua Yayasan pengelola SPPG 008 Jagakarsa, pada 16 Januari 2026 telah mendatangi Lahyanto Nadie, tetangga sebelah rumah tinggal yang dialihfungsikan untuk dapur umum tersebut, untuk meminta izin.
FB didampingi pengurus yayasan lain dan warga setempat meminta doa dan memohon izin beroperasi kepada tetangga. Lahyanto mengatakan bahwa ia pasti medoakan, namun untuk memberikan izin, ia harus bermusyawarah terlebih dahulu.
Setelah melakukan peninjauan dapur, Lahyanto meminta kepada FB agar bertemu dengan pemilik rumah tersebut, WD yang juga politisi Kebon Sirih Jakarta. Namun, hingga berita ini diturunkan, FB tak memberikan kabar.
FB mengakui bahwa dapurnya akan mengganggu para tetangga terdekat baik masalah sampah organik, kebisingan dengan karyawan sebanyak 40 orang, maupun persoalan lalu lintas.
Sementara itu, Lahyanto menjelaskan, peningkatan limbah organik dan emisi karena volume makanan yang terbuang tinggi, menyebabkan peningkatan sampah makanan yang merusak bumi dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.
Sedangkan pencemaran air dan tanah terjadi karena sisa makanan yang membusuk menghasilkan lindi (cairan sampah) yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air.
Risiko lainnya adalah potensi kebakaran karena udara yang penuh dengan minyak akibat ventilasi yang buruk dapat memicu risiko kebakaran. “Hal yang mengkhawatirkan adalah pencemaran udara dan tanah,” kata dosen di sejumlah perguruan tinggi tersebut. ●Redaksi/DNY
