2026-02-22 15:02

“Rumah Peti Mati” Warga Hongkong untuk Bertahan Hidup Ditengah Gemerlapnya Hongkong

Share

HARIAN PELITA — Hong Kong dikenal sebagai salah satu pusat keuangan terkaya di dunia, namun di balik gedung-gedung pencakar langitnya yang megah, tersimpan kenyataan pahit tentang krisis perumahan yang ekstrem.

“Coffin House” atau rumah peti mati menjadi pilihan terakhir bagi ribuan warga yang tidak mampu membayar harga properti yang gila-gilaan.

Di sana, satu ruangan apartemen dibagi menjadi bilik-bilik kayu seukuran 1,5 x 2 meter, di mana meluruskan kaki saja menjadi sebuah kemewahan yang sulit didapatkan.

Di dalam kotak sempit tersebut, penghuninya harus menumpuk seluruh harta benda mereka, mulai dari pakaian, makanan, hingga peralatan elektronik kecil.

Udara pengap tanpa jendela serta lingkungan yang sering kali dipenuhi hama menjadi santapan sehari-hari bagi para buruh bergaji rendah dan pensiunan yang tinggal di sana.

Ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan rumah subsidi yang cepat membuat antrean warga untuk mendapatkan tempat tinggal layak bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Ironisnya, banyak dari rumah-rumah peti mati ini berlokasi di pusat kota yang strategis, sangat dekat dengan distrik bisnis mewah tempat para penghuninya bekerja.

Mereka memilih hidup terjepit daripada harus tidur di jalanan, meskipun harus mengorbankan privasi dan martabat mereka sebagai manusia.

Fenomena ini adalah bukti nyata dari kesenjangan sosial yang sangat lebar, di mana ruang untuk bernapas bagi masyarakat kelas bawah dihargai dengan harga yang sangat mahal.

Kisah tentang Coffin House terus menjadi perhatian dunia sebagai kritik terhadap kegagalan sistem ekonomi perkotaan dalam menyediakan kebutuhan dasar manusia.

Rumah-rumah ini bukan hanya tempat tinggal, melainkan simbol keputusasaan di tengah gemerlapnya kota global.

Kita diingatkan untuk lebih bersyukur atas setiap ruang yang kita miliki, sembari berharap ada solusi nyata bagi krisis kemanusiaan yang tersembunyi di balik dinding-dinding kayu di Hong Kong. ●Redaksi/HongkongNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *