2026-03-05 22:55

Menjaga Nada Negeri: Cita Svara Indonesia Serukan Kedaulatan Musik Nasional Jelang Hari Musik Nasional 2026

Share

HARIAN PELITA — Menjelang peringatan Hari Musik Nasional pada 9 Maret 2026, geliat diskusi tentang masa depan musik Indonesia kembali menguat.

Dalam sebuah press gathering digelar Kamis (5/3/2026) di Jakarta, komunitas pelaku industri musik tergabung dalam Cita Svara Indonesia (CSI) menyerukan pentingnya memperkuat kedaulatan musik Indonesia di negeri sendiri.

Momentum tahunan ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono itu kini memasuki tahun ke-13 sejak pertama kali diperingati. Bagi para pelaku industri, perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa musik Indonesia memiliki potensi besar sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif.

Cita Svara Indonesia memperkenalkan diri kepada publik dengan mengusung tagline “Beda Masa Satu Rasa.” Organisasi ini menghimpun para pelaku musik yang telah lama berkecimpung dalam ekosistem industri, sebagian bahkan telah aktif sejak era 1980–1990-an—sebuah generasi yang menyaksikan langsung transformasi musik Indonesia dari era kaset, CD, hingga streaming digital.

CSI lahir dari kesadaran kolektif bahwa ekosistem musik nasional membutuhkan ruang kolaborasi yang lebih kuat. Para penggagasnya ingin mendorong terciptanya sinergi sehat antar musisi, produser, hingga pelaku industri kreatif agar musik Indonesia tidak hanya berkembang sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai industri yang memiliki daya saing global.

Menurut CSI, keberagaman musik Nusantara merupakan kekuatan yang belum sepenuhnya dimaksimalkan. Dari pop, rock, jazz, hingga kekayaan musik tradisional dari berbagai daerah, semuanya memiliki potensi untuk tampil di panggung dunia. Namun di sisi lain, derasnya arus budaya global menjadi tantangan yang harus diimbangi dengan penguatan identitas musik nasional.

Karena itu, CSI mendorong lahirnya kemitraan strategis antara pelaku industri musik, komunitas kreatif, dan pemerintah. Tujuannya jelas: memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi musik internasional, tetapi juga mampu menjadi pemain aktif di pasar global.

Gerakan Cita Svara Indonesia sendiri digagas oleh sejumlah nama yang telah lama berkiprah di dunia musik nasional, antara lain Connie Constantia, Peter Frits Momor, Harry Koko Santoso, Jimmy Turangan, Maria Elizabeth, Lodewiyk Cornelis Ticoalu, Tony TSA, Boetje Tenda, Taraz Bistara, Hendrik Agustinus Siagian, Erby Dwitoro, Oleg Sanchabakhtiar, Setiadi Darmawan, Firdaus Fadlil, dan Gideon Momongan.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menilai perkembangan musik Indonesia saat ini semakin dinamis, terutama dengan meningkatnya popularitas lagu-lagu berbahasa daerah di berbagai platform digital.

“Sekarang kita tidak pernah membayangkan bahwa di zaman ini justru musik-musik berbahasa daerah memiliki peminat dan jumlah penonton yang luar biasa besar,” ujar Giring.
Ia mencontohkan bagaimana genre seperti campursari dan koplo mampu meraih puluhan hingga ratusan juta penonton di platform streaming seperti YouTube dan Spotify. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas lokal justru memiliki daya tarik kuat di era digital.

Menurutnya, musisi masa kini juga dituntut memiliki kemampuan yang lebih luas. Tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga memahami bisnis musik, membangun storytelling, mengelola media sosial, hingga menciptakan identitas artistik yang kuat. ●Redaksi/Satria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *