Seandainya Kita Menang Lawan Bulgaria || Catatan Nazar Husain
SEANDAINYA Timnas Indonesia memenangkan laga melawan Timnas Bulgaria 1-0 dipastikan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan meledak. Suporter meloncat-loncat, tertawa lepas sambil melepaskan bajunya (penonton pria-Red) dan menyalakan lampu HP-nya.
Pujian pun datang silih berganti. Menyokong kemenangan Timnas Indonesia yang bermain ciamik dengan polesan permainan gaya eropa. Penonton pun tak beranjak dari kursi duduknya, betapa gembiranya mereka.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir pun ikut bersemangat 100 persen, diikuti jajaran pengurus PSSI. Pemain pun tak berhenti berputar-putar mengelilingi lapangan GBK kemudian mengitari garis bulat di tengah lapangan sambil menyanyikan “Tanah Airku”.
Namun apa mau dikata. Pertandingan antara Timnas Bulgaria Vs Timnas Indonesia berakhir menyakitksn. Timnas Indonesia kalah 1-0 akibat pelanggaran dikotak pinalti Kevin Diks kemudian diganjar pinalti.
Mimpi memenangkan Laga final FIFA Series 2026 pun buyar!. Timnas Indonesia pun belum beruntung. Tendangan Ole Romeny dua kali ke gawang Timnas Bulgaria hanya menghantam tiang gawang.
Ole Romeny belum beruntung. Takdir kemenangan belum ditangan, tetapi permainan Timnas Indonesia sudah berkelas Eropa. Pertahanan kokoh Timnas Indonesia dikawal Jay Idzes solid, sulit ditembus pemain Bulgaria berbadan besar.
Malah pemain Bulgaria terlihat frustasi dan selalu guling-guling di lapangan walau hanya disenggol sedikit. Kevin Diks kena apes, dia bermaksud hendak menggagalkan sepakan pemain Bulgaria yang sudah mengarah ke gawang Emil Aidero, dianggap melanggar oleh wasit asal Malaysia. Pinalti!.
Timnas Indonesia sayangnya harus puas menelan kekalahan dengan skor 0-1. Satu-satunya gol Timnas Bulgaria tercipta lewat Marin Petkov dari titik putih di menit 37″. Semangat pemain pun agak kendor. Pelatih Timnas Indonesia John Herdman terlihat memegang kepalanya sangat lecewa. Apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Harapan menang hilang begitu saja.
Bukan hanya pelatih John Herdman memuji peningkatan permainan Indonesia tapi seluruh bangsa ikut memuji permainan Indonesia yang sangat apik dengan pola pertahanan sulit ditembus lawan. Mental pemain Indonesia pun bukan mental kerupuk lagi, mereka kini berubah menjadi pemain bermental baja. Ngotot sepanjang pertandingan tanpa lelah.
Dibalik itu, hujatan netizen bertubi-tubi datang, bagai orang tak punya adab dan adat. Mereka seenaknya menghujat, hanya kecewa Indonesia kalah. Bola itu bundar bro. Ada kalanya menang ada kalanya kalah. Itu pertandingan sepakbola yang bermain dengan bola bunder.
Kita salut dengan pelatih asal Inggris John Herdman yang datang melatih Timnas Indonesia lalu merubah bentuk permainan berkelas Eropa
Saat ini kita patut angkat topi untuk Timnas Indonesia yang berhasil membuat permainan Timnas Bulgaria menerapkan permainan “parkirbus”. Bahkah terlihat frustasi akibat solidnya pertahanan Jay Idzes dkk.
Ada kebanggaan terukir sejumlah pemain Indonesia bermain di liga eropa seperti Jay Idzes (Italia), Kevin Diks (Jerman), Calvin Verdonk (Prancis), Ole Romany dan Elkan Baggot (Inggris), Emil Audero (Italia), Maarten Paez (Belanda), Justin Hubner (Belanda), Joy Palupessy (Belgia) dan lainnya.
Artinya kita bangga punya pemain-pemain hebat. Kekalahan melawan Timnas Bulgaria bukan akhir dari segalanya, tetapi awal kebangkitan Timnas Indonesia, itu!! *****
