2026-04-19 12:43

Bahaya Menyantap Ikan Sapu-sapu dari Kali Jakarta

Share

HARIAN PELITA — Ribuan ikan sapu-sapu baru saja disapu bersih dari Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jumat, 17 April 2026.

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) turun ke lapangan menjalankan instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengendalikan populasi ikan invasif kian merajalela di perairan ibu kota.

Target operasi hari itu: lima ton ikan sapu-sapu. Tapi di luar soal ekosistem, ada pertanyaan yang diam-diam bergolak di benak banyak orang: ikan sebanyak ini, boleh tidak sekalian dimakan?

Guru Besar Bidang Keamanan Pangan IPB University, Profesor Ahmad Sulaeman, memberikan jawaban yang tegas. Secara biologis, ikan sapu-sapu memang bisa dikonsumsi.

Tapi ada syarat yang tidak bisa ditawar: ikan harus berasal dari perairan yang bersih dan tidak tercemar, atau dari hasil budidaya yang terkontrol. Sementara kondisi sungai-sungai di Jakarta? Jauh dari gambaran itu.

“Habitat dan kebiasaan hidup ikan ini adalah di dasar sungai, rawa, got, dan memakan lumpur serta sisa organik. Karena itu ikan ini gampang mengakumulasi racun dari lingkungannya,” kata Ahmad.

Sebagai ikan jenis bottom-feeder, sapu-sapu menyedot semua yang ada di dasar perairan, termasuk limbah rumah tangga, deterjen, pestisida, hingga mikroplastik.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok menegaskan sungai-sungai di Jakarta telah tercemar limbah industri, sehingga ikan liar yang diambil dari perairan ibu kota tidak layak konsumsi.

Tidak ada sistem pengawasan mutu yang memantau ikan-ikan hasil tangkapan liar ini. Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa ikan yang masuk ke perut kita bebas dari bahaya.

Yang dikhawatirkan bukan sekadar perut mual. Ikan sapu-sapu dari sungai tercemar berpotensi mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri, timbal, kadmium, dan arsen, yang kadarnya bisa melebihi ambang batas aman pangan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia.

Bahkan proses memasak pun tidak bisa menghilangkan logam berat yang sudah terakumulasi dalam daging ikan.

Jika terlanjur dikonsumsi, Ahmad menjelaskan dampaknya bergantung pada seberapa tercemar ikan tersebut dan seberapa sering dikonsumsi.

Dalam 1 hingga 24 jam setelah makan, efek akut bisa langsung dirasakan: mual, muntah, diare, sakit perut, pusing, hingga gatal. Tapi yang lebih mengerikan adalah dampak jangka panjang.

Konsumsi rutin dari sumber tercemar bisa berujung pada kerusakan ginjal dan hati, gangguan sistem saraf, gangguan kesuburan, bahkan risiko kanker.

Kelompok paling rentan adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak. Ahmad memperingatkan dengan keras: konsumsi ikan sapu-sapu bisa mengganggu perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Ini bukan risiko yang bisa diabaikan. ●Redaksi/HP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *