“Bank Jakarta”, Jakarta Butuh Bank yang Sehat, Bukan Cuma Ganti Baju
Kategori Bank Jakarta
Penulis: Nazar Husain
BANK DKI resmi berganti nama menjadi Bank Jakarta sejak Juni 2025, bertepatan dengan HUT ke-498 Jakarta lalu dan perubahan nama ini bagian dari transformasi menuju IPO dan ekspansi regional.
Nama Bank DKI berganti Bank Jakarta sebuah terobosan berani setelah lepas dari status BUMD DKI. Namun dibalik pergantian itu tata kelola dan kredit macet masih jadi sorotan OJK.
Ganti nama jadi Bank Jakarta, tapi apakah mentalitasnya ikut ganti?. Contohnya kredit macet Bank Jakarta tembus 12% di tahun 2024, jauh di atas rata-rata bank daerah 4%.
Misalnya uang APBD yang diparkir di sana jadi taruhannya. Bila kolaps, yang rugi ya pajak kita.
Daripada sibuk rebranding, audit forensik dulu semua kredit bermasalah era 2017-2022. Pernyataan sikap yang kuat guna melangkah lebih jauh, yang sebenarnya Jakarta butuh bank yang sehat, bukan cuma ganti baju.
Rebranding tanpa reformasi percuma, contoh lain kasus eks Dirut. Bank Jakarta kelola dana APBD, wajib transparan seperti berapa dana Pemprov DKI di sana, dividen ke DKI.
Bisakah Bank Jakarta bersaing tanpa “privilege” BUMD? Suku bunga, layanan digital Vs BCA/BRI menuntut lebih profesional sebagai bank daerah.
Rupanya dari keseluruhan harapan itu daripada sibuk rebranding, audit forensik dulu semua kredit bermasalah era 2017-2022.
Lebih baik menjadikan Bank Jakarta sebagai asa kemajuan perbankan di tengah masyarakat. Sebab Jakarta butuh bank yang sehat, bukan cuma ganti baju.
Rebranding tanpa reformasi di tubuh Bank Jakarta percuma saja, hanya memperhalus di bagian depan saja tanpa menyentuh kedalaman manajerial di seluruh sektor perbankan.
Pertanyaannya, apa bisa Bank Jakarta bersaing dengan bank-bank swasta lain tanpa “privilege” BUMD? Seperti Bank Jawa Barat (Bank Jabar) dan Bank JawaTengah (Bank Jateng) kenapa mereka bisa lebih sehat?.
Menurut data, kinerja terbaru Bank Jakarta atau Bank DKI, misalnya kinerja keuangan Q1 2025/Q2 2025 dan laba bersih: Q1 2025 tercatat Rp193,27 miliar, turun 9,43% YoY dibanding Q1 2024 Rp213,39 miliar.
Penurunan karena beban bunga naik signifikan. Kredit tumbuh 4,23% YoY menjadi Rp55,58 triliun. Segmen konsumer masih dominan 69,15%, lalu ritel 14,85%, dan korporasi 7,26%.
Pada catatan lain, DPK, tumbuh 2,63% YoY jadi Rp64,92 triliun. CASA ratio 37,24%. Aset Naik 1,42% YoY jadi Rp81,25 triliun per Maret 2025. NPL, Gross 3,21% dan Nett 1,46%, masih terjaga di bawah 5%.
Ada pertanyaan lagi, kenapa rebranding ke Bank Jakarta, dikabarkan, karena persiapan go public di BEI. Nama “Jakarta” dianggap lebih marketable secara nasional dan regional.
Tidak lagi terbatas sebagai BPD DKI. Bisa buka cabang di luar Jakarta dan bidik nasabah korporasi nasional.
Untuk fokus pada kemajuan kini Bank Jakarta fokus menjadi bank digital BUMD terdepan. Maka diluncurkan “JakOne Mobile”, JakCard, dan kerja sama QRIS dengan MRT, TransJakarta.
Kini Bank Jakarta masuk KBMI 2 dengan modal inti Rp11,8 triliun per-akhir 2024 dengan target KBMI 3 Rp14 triliun.
Semoga Bank Jakarta menjadi “sasaran” masyarakat untuk menjadi nasabah tetap dan tidak akan lari ke bank lain. Sejalan peningkatan layanan masyarakat, nasabah, ramah, sopan serta full senyum. *****
