Paling Enak Tinggal di Jakarta Tapi Ribetnya Minta Ampun
●Artikel
JAKARTA pada usia hampir 500 tahun memiliki sejarah panjang dan prolematika bagi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta khususnya masalah kemacetan setiap hari yang cukup parah.
Berdasarkan data TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan di Jakarta mencapai 59,8 persen pada tahun 2025, meningkat 1,1 persen dari tahun sebelumnya.
Prediksinya mungkin rata-rata waktu tempuh untuk jarak 10 km menjadi 26 menit 19 detik, lebih lama 1 menit 6 detik dari tahun 2024. Bahkan ada lontaran menyakitkan “Tiada Hari Tanpa Macet” di Jakarta.
Mungkin dapat dimaklumi, tingkat kemacetan 110 persen pada jam sibuk selepas jam usai kantor dan sebelum aktifitas kantor pada pagi hari. Bayangkan, keterangan yang diperoleh, dengan jarak tempuh 2,8 km dalam 15 menit, bagaimana kalau jarak tempuh 10 km? Bisa dipastikan akan menyita waktu beberapa jam akibat macet.
Penyebab kemacetan di Jakarta, konon, peningkatan jumlah kendaraan bejibun dan kurangnya infrastruktur jalan sehingga menimbulkan kepadatan jalan. Apalagi, lokasi rawan kemacetan: area stasiun, mall, dan halte terutama pada jam sibuk.
Banyak upaya pemerintah daerah untuk mengatasi kemacetan itu dengan pemberlakuan kebijakan three in one dan sistem ganjil genap. Pembangunan akses jalan bebas hambatan (tol) dan penambahan koridor bus Transjakarta. Pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT) dan Light Rail Transit (LRT), tapi upaya itu tidak memberikan jaminan jalan di Jakarta lancar jauh dari kemacetan.
Malah berbagai sistem penerapan dan kebijakan dilaksanakan tak pernah berbuah manis, jalan tetap macet. Warga tetap ribet!. Padahal Kota Jakarta nyaman dan indah untuk dihuni. Semua orang, baik berasal dari daerah dan warga Jakarta sendiri merasakan nikmatnya tinggal di Jakarta.
Memang tak bisa dipungkiri, Jakarta menjadi impian setiap warga negara Indonesia untuk melihat Jakarta sebagai kota “impian sejuta umat”, dan sebagai lahan mencari rejeki dan impian untuk merubah nasib.
Berdasarkan data proyeksi tahun 2026 ini, jumlah penduduk Jakarta saat ini diperkirakan sekitar 11,84 juta jiwa. Menurut data pada tahun 2025 lalu, jumlah penduduk Jakarta sekitar 10,68 juta jiwa pada tahun 2025.
Misalnya wilayah administratif, Jakarta Timur masih menjadi daerah dengan penduduk terbanyak yaitu sekitar 3,08 juta jiwa, Jakarta Barat jumlah penduduknya sekitar 2,49 juta jiwa.
Sedangkan jumlah penduduk Jakarta Selatan sekitar 2.219.225 jiwa, Jakarta Pusat sekitar 1.038.396 jiwa dan Jakarta Utara sekitar 1.819.009 jiwa. Data ini berdasarkan perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tahun 2025.

Jadi tak bisa dielakkan bila Kota Jakarta setiap hari dipadati “orang-orang sibuk” dengan berbagai aktifitas dan fasilitas kendaraan. Termasuk memadati jalan-jalan Jakarta untuk mengejar kebutuhan hidupnya.
Tapi ada sisi enaknya tinggal di Jakarta banyak tempat-tempat yang dapat dikunjungi seperti Monas, Ancol, Ragunan, TMII dan mal-mal besar dan lainnya, yang menjanjikan hiburan bagi keluarga. Belum lagi kulinernya dari yang murah hingga yang mahal bertebaran di Jakarta.
Pada sejarahnya Kota Jakarta memiliki sejarah panjang dimulai dari abad ke-4 Masehi sebagai pelabuhan kecil di muara Sungai Ciliwung. Kota ini pernah menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara dan pernah dijajah oleh Portugis, Inggris, dan Belanda.
Pada tahun 1619, Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal VOC, mendirikan Batavia sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, nama Batavia diubah menjadi Jakarta pada tahun 1949.
Jadi kesimpulannya, paling enak tinggal di Kota Jakarta meskipun ribet, rumit namun tetap menjadi “Surga Dunia”.
●Penulis Wartawan HarianPelita.id *****
