Diskusi AJV: Uap Bensin Berbahaya di SPBU, Baru 20 SPBU Gunakan Teknologi Penangkap Uap
HARIAN PELITA — Aliansi Jurnalis Video (AJV) bidang Lingkungan Hidup menggelar diskusi publik bertajuk “Uap Beracun Berbahaya (VOCs) di POM Bensin (SPBU), Bagaimana Solusinya?” di Hotel Amaris Pancoran, Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Diskusi ini menyoroti potensi bahaya uap bahan bakar atau Volatile Organic Compounds (VOCs) dihasilkan dari aktivitas pengisian bahan bakar di SPBU. Emisi tersebut dinilai dapat berdampak pada kesehatan manusia sekaligus mencemari lingkungan.
Ketua AJV, Chandra, mengatakan diskusi ini merupakan forum ketiga yang digelar AJV untuk membahas persoalan uap bahan bakar di SPBU.
“Ini sudah dua kali kami lakukan sebelumnya. Kami berharap diskusi ketiga ini dapat menghasilkan solusi agar masyarakat tidak lagi khawatir saat berada di SPBU,” kata Chandra.
Menurutnya, hasil diskusi diharapkan bisa menjadi masukan bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang melindungi masyarakat dari paparan uap berbahaya di area SPBU.
Dalam forum tersebut, Brigitta Manohara menjelaskan bahwa sebenarnya sudah ada teknologi yang dapat menangkap uap bensin yang selama ini terlepas ke udara. Uap tersebut kemudian dapat dikondensasikan kembali menjadi bahan bakar.
Ia menyebutkan jika dihitung secara ekonomi, uap bensin yang terlepas ke udara berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp3,8 triliun per tahun.
“Jika uap itu bisa ditangkap dan diolah kembali, selain mengurangi pencemaran juga dapat mengembalikan nilai ekonominya,” ujarnya.
Sementara itu, ahli pemasangan Vapor Recovery System (VRS), Baidi, menjelaskan teknologi tersebut mampu menangkap uap VOC yang muncul dari proses pengisian maupun penyimpanan bahan bakar di SPBU.
Menurut Baidi, mesin VRS memanfaatkan tekanan uap bahan bakar yang masuk ke dalam sistem, kemudian diproses melalui penyulingan dan pendinginan hingga kembali menjadi bahan bakar cair.
“Prosesnya sekitar 30 menit hingga satu jam sampai menjadi bahan bakar kembali. Dari mesin awal, alat ini mampu menangkap sekitar 75 sampai 80 persen uap VOC,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kehilangan bahan bakar akibat penguapan biasanya berkisar 0,12 hingga 0,2 persen, atau sekitar 12 liter. Dengan teknologi tersebut, sebagian besar uap bisa ditangkap kembali.
Saat ini, alat VRS baru dipasang di sekitar 20 SPBU di wilayah Jabodetabek. Mesin berukuran sekitar dua meter dengan panjang 180 sentimeter itu memiliki masa pakai 5 hingga 10 tahun, tergantung perawatan.
Namun Baidi mengakui teknologi tersebut masih diimpor dari Korea Selatan dengan harga sekitar Rp600 juta per unit.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Angga Wira, Satuan Pengawas SKK Migas yang juga Staf Khusus Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan isu ini penting karena berkaitan dengan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan beberapa komponen VOC dapat berdampak pada kesehatan, seperti benzena yang bersifat karsinogen, etilbenzena yang berpotensi karsinogen, toluena yang dapat mengganggu sistem saraf, xilena sebagai iritan, serta n-hexana yang bersifat neurotoksin.
Angga mengatakan pemerintah membuka peluang untuk membahas lebih lanjut penerapan teknologi pengendalian uap bahan bakar tersebut. ●Redaksi/Satria
