“Aku Harus Mati”: Horor Pesugihan Vs Kerja Keras, Teror Ambisi dan Validasi Sosial di Era Flexing
HARIAN PELITA — Di tengah maraknya budaya flexing di media sosial kerap dijadikan tolok ukur kesuksesan, film horor terbaru berjudul “Aku Harus Mati” hadir membawa pesan mendalam tentang ambisi, validasi, dan konsekuensi dari jalan pintas menuju kekayaan.
Diproduksi Rollink Action bersama Executive Producer Irsan Yapto dan Nadya Yapto, film ini disutradarai Hestu Saputra dan ditulis Aroe Ama. Mengusung genre horor misteri, film ini tak sekadar menyuguhkan kengerian, tetapi juga mengajak penonton melakukan refleksi diri terhadap realita sosial saat ini.
“Di era modern, tekanan untuk terlihat sukses sering kali membuat seseorang tergoda mencari cara instan. Film ini mempertanyakan—apakah kesuksesan itu hasil kerja keras, atau justru hasil pesugihan?” ungkap Irsan Yapto.
Film ini mengisahkan Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gemerlap kehidupan kota besar hingga terlilit hutang dan dikejar debt collector.
Dalam keputusasaan, ia kembali ke panti asuhan tempat masa lalunya, bertemu sahabat lamanya Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta sosok misterius Ki Jogo (Bambang Paningron).
Perjalanan Mala berubah menjadi teror penuh misteri saat ia mulai mengungkap rahasia kelam yang berkaitan dengan perjanjian iblis dan masa lalu yang menghantuinya. Dalam proses itu, ia harus menghadapi pilihan berat tentang harga yang harus dibayar demi ambisi dan pengakuan.
Sutradara Hestu Saputra menegaskan bahwa film ini adalah cerminan realitas sosial.
“Ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah. Film ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati lahir dari proses dan integritas, bukan jalan pintas yang berujung kehancuran,” ujarnya.
Dengan jajaran pemain seperti Hana Saraswati, Amara Sophie, Prasetya Agni, Mila Rosinta, dan Bambang Paningron, film ini siap menjadi salah satu tontonan horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga menggugah kesadaran.
Siapa yang harus dikorbankan? Siapa pemegang perjanjian iblis sebenarnya?
Temukan jawabannya dalam “Aku Harus Mati”, tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 April 2026.
●Tentang produksi
Rollink Action merupakan rumah produksi di bawah naungan Link Group International yang berfokus pada karya film berkualitas dengan narasi kuat berbasis isu sosial dan budaya.
Perusahaan ini berkomitmen menghadirkan film yang relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia sekaligus membuka ruang bagi talenta lokal untuk berkembang.
Sementara itu, Link Group International dikenal sebagai grup media dan marketing independen berbasis di Jakarta yang telah menjadi pemain utama dalam strategi komunikasi merek lintas platform di Indonesia. ●Rsdaksi/Satria
