FFH Januari 2026 Tetapkan “Janur Ireng” Film Terpilih Tren Film Horor Nasional Dinilai Kian Cerah
HARIAN PELITA — Festival Film Horor (FFH) kembali digelar dan memasuki Edisi ke-2 pada Januari 2026. Festival film horor bulanan ini secara resmi menetapkan film Janur Ireng sebagai Film Terpilih FFH Januari 2026, sekaligus menegaskan optimisme terhadap tren film horor Indonesia 2026 dinilai masih menjadi lokomotif utama industri perfilman nasional.
FFH merupakan festival yang memberikan penghargaan Nini Suny Award bagi karya horor terpilih. Namun lebih dari sekadar ajang apresiasi, FFH hadir sebagai ruang refleksi dan evaluasi strategis bagi kemajuan perfilman nasional, khususnya genre horor.
Setiap penyelenggaraannya, FFH selalu diawali dengan diskusi publik bertema “Trend Film Horor 2026”.
Diskusi publik FFH Januari 2026 menghadirkan lima pembicara dari berbagai latar belakang, yakni Syaifullah Agam (Direktur Film, Musik, dan Seni Kemendikbud), Nini L. Karim (dosen psikologi Universitas Indonesia dan artis senior), Arya Pramasaputra (mahasiswa pascasarjana IKJ), serta dua sutradara film horor Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas, yang saat ini tengah menunggu penayangan film terbaru mereka.
Kelima narasumber sepakat bahwa film horor Indonesia harus terus berkembang dan menghormati penontonnya. Menurut mereka, film horor yang baik bukan sekadar menakut-nakuti, melainkan mampu meninggalkan kesan mendalam dan tetap diingat penonton setidaknya dua hingga tiga hari setelah menonton di bioskop.
Para pembicara juga menekankan pentingnya inovasi dan keberanian mengeksplorasi tema. Jika film horor terus berputar pada pola yang sama, mereka khawatir industri film nasional bisa kembali mengalami masa suram seperti sebelum tahun 2004.
Dalam paparannya, Syaifullah Agam mengungkapkan bahwa sepanjang 2021–2023, film nasional bergenre horor dan komedi menjadi penyumbang terbesar jumlah penonton bioskop. Total penonton mencapai lebih dari 128 juta orang, dengan rata-rata satu judul film ditonton sekitar 450 ribu penonton.
“Film horor saat ini masih menjadi lokomotif perfilman Indonesia. Namun belakangan jumlah penontonnya mulai menurun. Jika tidak ada terobosan, film horor bisa mengalami nasib yang sama seperti genre film Islami yang sempat ditinggalkan penonton,” ujarnya.
Sementara itu, Nini L. Karim lebih memilih menyebut film horor sebagai film mistik. Menurutnya, film mistik yang baik tetap harus menggunakan akal sehat dan mampu diterima secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. “Inilah tuntutan penonton yang rela membayar untuk merasakan ketakutan,” katanya.
Pada akhir acara, dewan juri FFH mengumumkan daftar pemenang FFH Januari 2026. Film Janur Ireng dinobatkan sebagai Film Terpilih, sekaligus mengukuhkan dominasinya dengan meraih beberapa penghargaan utama.
Berikut daftar pemenang FFH Januari 2026:
• Film Terpilih: Janur Ireng
• Aktor Terpilih: Tora Sudiro (Janur Ireng)
• Sutradara Terpilih: Kimo Stamboel (Janur Ireng)
• Aktris Terpilih: Wavi Zihan (Qorin 2)
• DOP/Cameraman Terpilih: Enggar Budiono (Dusun Mayit)
Selain itu, FFH juga memberikan Penghargaan Khusus Dedikasi dan Pengabdian Perfilman Indonesia kepada Eppie Kusnandar, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya yang konsisten di industri film nasional.
Dengan capaian tersebut, FFH Januari 2026 semakin menegaskan posisinya sebagai barometer perkembangan film horor Indonesia, sekaligus memberi sinyal kuat bahwa tren film horor nasional masih memiliki masa depan yang cerah. ●Redaksi/Satria
