Film “Macam Betool Ajaa”: Ketika Anak Muda, Cinta dan Kontrak Kerja Saling Menipu
HARIAN PELITA — Di sebuah ruko kecil dekat pasar—ruang sempit tempat proposal, debu, dan doa saling berserakan—tiga anak muda mencoba menamai nasib mereka dengan akronim: AIU-EO.
Bukan karena besar, apalagi mapan. Singkatan itu sekadar topeng profesional agar terdengar layak di hadapan klien yang gemar menawar harga sambil memuji kreativitas.
Alung, Igor, dan Ujay hidup dari kalender acara dan janji transfer. Mereka disebut freelancer, istilah modern yang di negeri ini kerap berarti kebebasan bermimpi, sekaligus kebebasan untuk kelaparan.
Dari Medan, mereka menatap masa depan seperti poster motivasi: penuh warna, mudah sobek.
Kabar baik datang dalam bentuk pesta pernikahan mewah milik seorang pengusaha kaya bernama Udin. Proyek besar. Proyek emas.
Sebuah pekerjaan yang—setidaknya di atas kertas—mampu menyelamatkan sewa ruko, biaya hidup, dan keyakinan bahwa kerja kreatif masih memiliki harga.
Namun emas selalu punya retak. Igor mendapati nama pengantin perempuan itu: Sofia. Nama lama yang seharusnya tinggal di bangku sekolah, kini berdiri di altar masa depan.
Sofia tidak datang membawa cinta. Ia datang membawa kewajiban. Pernikahan ini bukan perayaan, melainkan transaksi—cara keluarga melunasi utang budi, mata uang paling tua dan paling kejam dalam relasi sosial.
Sofia meminta satu hal yang terdengar sederhana sekaligus mustahil: membatalkan pernikahan.
Di titik inilah “Macam Betool Ajaa” berhenti menjadi sekadar komedi situasi. Film ini berubah menjadi cermin. AIU-EO dipaksa memilih antara profesionalisme dan nurani, antara invoice dan cinta, antara kontrak kerja dan keberanian berkhianat pada sistem yang tak pernah benar-benar adil.
Tawa memang disiapkan sebagai kemasan. Namun di baliknya, film ini menyimpan kisah tentang generasi muda yang berkali-kali belajar bahwa mimpi kerap dipaksa tunduk pada ekonomi, dan cinta harus antre di belakang kepentingan keluarga.
Tanpa berteriak, Macam Betool Ajaa menyindir realitas dengan sopan. Ia tertawa pelan, tapi tepat sasaran. Di dunia kreatif, yang paling sering disabotase bukanlah acara—melainkan harapan.
Ketika lampu panggung akhirnya menyala, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah pesta akan berjalan lancar. Melainkan: siapa yang harus dikorbankan agar semuanya tampak baik-baik saja.
Macam Betool Ajaa adalah komedi romantis yang membuat penonton tertawa, lalu pulang dengan dada terasa sedikit lebih berat—seperti hidup itu sendiri. ●Redaksi/Satria
