Horor Korea “Libas” Pasar Indonesia! Sineas Senior Bongkar Rahasia Sukses: Cerita Masuk Akal, Visual Ganas, Ekosistem Solid
HARIAN PELITA — Dominasi film horor Korea Selatan di pasar Indonesia kian tak terbendung. Di tengah transformasi besar industri perfilman nasional, sineas senior membedah secara terbuka rahasia di balik kesuksesan sinema Negeri Ginseng yang mampu “menghipnotis” penonton Tanah Air.
Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam diskusi panel bertajuk “Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia” yang menghadirkan sutradara senior Toto Hoedi, produser Heart Pictures Herty Purba, serta praktisi film Nanang Istiabudi. Diskusi yang dipandu moderator Chandra Satrya itu mengupas tuntas mengapa film horor Korea mampu melakukan penetrasi pasar yang begitu kuat di Indonesia.
●Penonton Indonesia Makin Cerdas dan Kritis
Salah satu temuan penting dalam diskusi adalah meningkatnya literasi menonton masyarakat Indonesia. Akses luas terhadap film global membuat penonton kini lebih selektif dan kritis. Mereka tidak lagi puas hanya dengan jumpscare instan, tetapi menuntut kualitas cerita yang solid dan visual yang sinematik.
Nanang Istiabudi, yang telah memproduksi film horor sejak era 1990-an, menegaskan bahwa penonton sekarang “lebih pintar membaca cerita”. Film horor Korea dinilai bukan sekadar tontonan menyeramkan, melainkan karya dengan standar produksi tinggi—dari skenario, tata visual, hingga desain promosi. Penonton merasa film tersebut memang “layak bayar”.
●“Medis vs Mistis”: Perbedaan Logika yang Menentukan
Secara kultural, Indonesia dan Korea memiliki kesamaan mitos tentang arwah penasaran. Namun, pendekatan penyelesaian konflik menjadi pembeda utama.
Film Korea cenderung memakai pendekatan logika faktual. Karakter yang mengalami gangguan supranatural tetap ditangani secara medis di rumah sakit. Unsur rasional ini menciptakan kesan realistis dan memperkuat emosi penonton.
Sebaliknya, film horor Indonesia masih banyak mengandalkan penyelesaian mistik murni. Perbedaan inilah yang dinilai membuat sebagian penonton merasa film Korea lebih “masuk akal” sekaligus menegangkan.
●Ekosistem Industri yang Tak Main-Main
Produser Herty Purba mengungkapkan bahwa kekuatan sinema Korea juga bertumpu pada dukungan ekosistem yang solid. Pemerintah Korea memberikan fasilitas besar bagi industri kreatif, termasuk kemudahan izin lokasi syuting di ruang publik seperti kampus dan rumah sakit.
Situasi ini kontras dengan tantangan birokrasi dan biaya perizinan yang kerap menjadi hambatan bagi sineas lokal. Diskusi ini pun menjadi refleksi keras bagi industri film Indonesia untuk memperbaiki infrastruktur dan tata kelola produksi.
●Kritik untuk Produksi Kilat Horor Lokal
Diskusi juga menyoroti praktik produksi film horor lokal yang sering dilakukan secara kilat—bahkan hanya sekitar 10 hari—demi menekan biaya. Praktik ini dinilai berdampak langsung pada kualitas teknis dan kedalaman cerita.
Para panelis menekankan pentingnya riset urban legend yang lebih matang serta eksplorasi pendekatan psikologis. Tren baru seperti monster dan zombie dinilai dapat menjadi alternatif segar menggantikan hantu tradisional yang mulai jenuh di mata penonton.
●FFHoror 2026 Umumkan Film dan Kru Terbaik
Sebagai penutup diskusi, diumumkan pula hasil penilaian Dewan Juri FFHoror periode 13 Januari–13 Februari 2026 yang diketuai Ncank Mail bersama Satria Sabil, Rio Apriciandhito, Nuty Larasaty, Dandung P. Hardoko, dan Dudy Novriansyah.
●Berikut daftar pemenang:
Film Terhoror Terpilih “Setan Alas”
Sutradara “Yusron Fuady” ( Setan Alas)
Aktor “Rangga Azof” (Kafir Gerbang Sukma)
Aktris “Putri Ayudia” ( Kafir Gerbang Sukma)
Tata Gambar/DOP “Awank JJ” (Dowa Ju Seyo/ Tolong Saya)
Refleksi dari forum ini menjadi alarm sekaligus peluang bagi industri horor nasional. Jika ingin tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sineas Indonesia didorong menyerap profesionalisme Korea—tanpa kehilangan identitas budaya lokal.
Horor Indonesia kini berada di persimpangan: berbenah atau tertinggal. ●Redaksi/Satria
