Aksi Demo Bersenjata di Kantor Bupati Jayawijaya, Wabup Ronny Elopere Dikejar Massa
HARIAN PELITA — Kantor Bupati Jayawijaya, Papua Pegunungan pada 8 September 2025 digeruduk ratusan orang mengatasnamakan Asosiasi 328 Kepala Kampung se-Kabupaten Jayawijaya.
Mereka mendatangi kantor pemerintahan dengan klaim menyampaikan aspirasi secara damai.
Namun di balik label itu, massa membawa parang, panah, besi, rantai, dan batu—senjata yang akhirnya mengubah demonstrasi menjadi teror terbuka.
Aksi itu berujung pada pengejaran terhadap Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere hingga ke dalam gedung kantor bupati.
Ronny terpaksa melarikan diri melalui tangga darurat dan bersembunyi di lantai tiga, sementara massa merangsek masuk, melempari bangunan, serta merusak mobil dinas wakil kepala daerah.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar, bagaimana mungkin senjata tajam bisa masuk ke kantor pemerintahan dengan sepengetahuan aparat?
Menurut Ronny Elopere, sejak awal aparat keamanan telah mengetahui bahwa sebagian massa membawa senjata tajam. Ia bahkan meminta secara langsung agar dilakukan penyitaan sebelum dialog dimulai.
“Ini disebut aksi damai, tapi mereka membawa parang, panah, rantai, dan batu. Kalau itu dibiarkan masuk, berarti ada pembiaran,” kata Ronny kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Massa sejak pagi berkumpul di Jalan Yos Sudarso, tepat di depan Menara Salib Wamena. Ketika pagar Kantor Bupati masih tertutup dan akses dibatasi, mereka mencari celah lain.
Barikade aparat ditembus. Tidak ada pemeriksaan ketat. Tidak ada sterilisasi.
Situasi yang semestinya dikendalikan justru dibiarkan mengalir hingga mencapai titik krisis.
Rencana dialog antara pemerintah daerah dan perwakilan massa tak pernah benar-benar berlangsung. Interupsi terus terjadi. Nada suara meninggi. Tekanan psikologis berubah menjadi intimidasi fisik.
Saat massa menyerobot masuk ke kantor, pengamanan melekat terhadap Wakil Bupati dinilai minim.
Ronny menjadi sasaran utama, ia harus menyelamatkan diri sendiri.
Di lantai bawah, kaca pintu dan jendela pecah akibat lemparan batu. Mobil dinas Wakil Bupati dirantai, dirusak, dan dilempari benda keras. Simbol negara tidak luput dari amuk. ●Redaksi/Sat
