Perginya Sang Legenda Satpol PP Harianto Badjoeri
HARIAN PELITA — TAHUN 2007 Jakarta dikepung banjir. Gubernur Sutiyoso alias Bang Yos bukan hanya banjir kritik dari warga, tapi juga dapat “kado” kasur basah dari Koordinator LSM Urban Poor Konsorsium (UPC) Wardah Hafidz yang mengancam akan menggugat Sutiyoso ke meja hijau lewat jalur class action.
Sutiyoso pun langsung mengumpulkan seluruh anak buahnya di Balai Kota DKI. Acara belum dimulai Sutiyoso terlihat memikirkan sesuatu. Tiba-tiba pria agak gemuk datang setengah berlari hanya memakai kaos dan celana training.
Sutiyoso dengan sigap menyambutnya. “Kok pakai training? tanya Bang Yos. “Siap salah Pak, dari lapangan,” jawab pria gemuk itu yang disambut senyum para pejabat DKI yang kala itu tampil rapi dan wangi.
Pria itu adalah Harianto Badjoeri atau yang kerap disapa HB. HB memang tipe pejabat yang sering terjun ke bawah, tak heran dia cukup dikenal mitra-mitranya yang sering berkoordinasi dengan Satpol PP baik kalangan TNI dan Polri dalam pengamanan penertiban Jakarta.
Bahkan, dia sangat disegani para mitranya tersebut. Tak jarang HB dikritik wartawan dalam tulisan, tapi dia profesional. Dia tetap berteman dengan wartawan yang mengkritiknya habis-habisan.
Setiap penertiban yang dilakukan Satpol PP DKI sukses di bawah komando HB. Namun, cerita sukses HB harus berakhir setelah penertiban Makam Mbah Priok di Tanjung Priok Jakarta Utara tahun 2010 yang berujung dengan kerusuhan. Banyak korban berjatuhan dari kubu pembela keberadaan makam maupun dari petugas Satpol PP.
Gubernur DKI saat itu Fauzi Bowo (Foke) langsung merespons kondisi tersebut dengan mencopot HB. HB yang sejak 2005 menjabat Kasatpol PP pun harus meninggalkan posisi itu dengan kepala tegak.
Pensiun dari Pemprov DKI HB yang mulai usia senja terlihat sudah didorong menggunakan kursi roda. Lama tak terdengar kabarnya, di Ramadan 2026 hari kelima datang kabar duka. HB meninggal dunia. Selamat jalan HB, legenda hidup Satpol PP DKI yang tiada terganti. ●Redaksi/Dunih
