2026-03-24 13:09

Klaim Nol Pengungsi, Presma UIN Ar-Raniry Tantang Prabowo ke Aceh Tanpa Protokol

Share

HARIAN PELITA — Klaim Presiden Prabowo Subianto bahwa seluruh pengungsi banjir di Aceh sudah tidak ada lagi yang tinggal di tenda mendapat bantahan keras dari kalangan mahasiswa.

Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Ar-Raniry Banda Aceh Tengku Raja Aulia Habibie terang-terangan menantang Kepala Negara untuk turun langsung ke Aceh tanpa protokol dan pengawalan, agar bisa melihat kondisi riil di lapangan dengan mata kepalanya sendiri .

Pernyataan Prabowo yang menyebut pemulihan pascabencana telah “100 persen” dan “tidak ada lagi pengungsi di tenda” disampaikan usai sholat Idul Fitri di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026) . Namun, Habibie menegaskan bahwa realitas di lapangan berkata lain.

Berdasarkan data yang dihimpun Presma UIN Ar-Raniry, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis (19/3/2026) mencatat masih terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa yang bertahan di tenda pengungsian.

Ribuan pengungsi tersebut tersebar di sejumlah daerah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Timur .

“Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Jangan menipu masyarakat Aceh dan Indonesia. Ribuan warga hingga hari ini masih tinggal di tenda dan belum mendapatkan tempat tinggal yang layak,” tegas Habibie dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026) lalu.

Klaim kontradiktif ini semakin menguat setelah muncul video dari seorang warga bernama Azanul Shauty melalui akun TikTok-nya.

Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 35 detik yang diunggah pada Minggu (22/3/2026), perempuan itu dengan lantang membantah pernyataan Presiden sambil memperlihatkan tenda-tenda tempatnya tinggal bersama warga lain di Desa Sekumur, Aceh Tamiang .

“Hari ini, Minggu, 22 Maret 2026, saya menanggapi statemen Pak Presiden Prabowo yang menyebut korban banjir di Aceh Tamiang tak lagi tinggal di tenda. Bapak lihat ini Pak, kami masih tinggal di tenda,” ujarnya dalam video yang viral tersebut .

Ia juga mengklaim pembangunan hunian sementara (huntara) baru mencapai sekitar lima persen dan belum dapat ditempati karena kondisinya belum memadai.

Sementara itu, laporan dari Kampung Lubuksidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang menyebut bahwa 154 unit huntara yang dijanjikan pemerintah justru baru akan selesai setelah Lebaran. Akibatnya, warga dipastikan merayakan Idul Fitri di tenda pengungsian yang sudah empat bulan mereka huni .

Fakta-fakta inilah yang membuat Habibie dan kalangan mahasiswa gerah. Ia menyoroti cara pemerintah yang dinilai hanya membaca laporan dan angka-angka di atas kertas, tanpa benar-benar turun melihat realitas.

“Presiden jangan hanya melihat laporan palsu dan angka-angka di atas kertas. Jika pemerintah tidak bisa melihat dan tidak bisa menyampaikan fakta yang sebenarnya, maka biar kami yang akan menunjukkan fakta di lapangan,” ujarnya .

“Jika Presiden benar-benar ingin melihat fakta, datanglah tanpa pengawalan, tanpa embel-embel jabatan, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Datanglah sebagai rakyat dan sebagai manusia, agar bisa melihat langsung bagaimana penderitaan masyarakat yang masih tinggal di tenda” .

Ia juga mengkritik pemerintah yang dinilai lebih banyak menyampaikan janji dibanding realisasi. Menurutnya, percepatan pemulihan pascabanjir berjalan lambat dan tidak sesuai dengan yang disampaikan ke publik.

Kini, publik menanti apakah tantangan Presma UIN Ar-Raniry akan direspons. Jika Prabowo benar-benar datang ke Aceh tanpa protokol dan melihat langsung kondisi warga yang masih bertahan di tenda, mungkin polemik ini akan menemukan titik terang. Namun jika tidak, maka kata-kata Habibie akan terus bergema: “Jangan menipu masyarakat Aceh dan Indonesia”. ●Redaksi/Andrian Saputra/HP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *