2026-02-21 0:10

Jejak Narkoba, Rusak Citra Kepolisian, Seragam Coklat Tak Lagi Bangga || Catatan Nazar Husain

Share

DEMI ALLAH, kita kutuk polisi terlibat narkoba”, “Demi Allah, kita haramkan polisi menjadi bandar dan pengedar narkoba”. Begitu umpatan pedes masyarakat terhadap okum polisi mencari uang haram lewat narkoba!.

Seragam coklat tak lagi menjadi kebanggaan kita–masyarakat–selama ini, akibat maraknya oknum-oknum polisi terlibat dalam jaringan narkoba yang merusak citra kepolisian terjerambab dalam “bisnis haram” itu.

Kita tak lagi melihat kepolisian berdiri tegak pada hukum yang diembannya, yakni mengayomi masyarakat menjaga keamanan kehidupan masyarakatnya, justru terlempar menjadi “sampah masyarakat” sehingga kita jijik melihat kelakuan dan sifat kepolisian belakangan ini merusak nilai-nilai moral dari seorang penegak hukum yang goyang dengan cara “menjual diri” demi harta sesaat!. “Persetan dengan Pangkat!”.

Pusing nggak bila setengah polisi bertugas di beberapa titik kewenangannya melakukan “pekerjaan haramnya” menjadikan narkoba sebagai “sahabat” sejatinya untuk meraih kesenangan sesaatnya dan melupakan tugasnya sebagai penjaga keamanan masyarakat? Mau jadi apa negara ini?!.

Contoh mantan Kasat Narkoba Polres Bima Kota AKP Maulangi dan Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro sangat memalukan perbuatannya melakukan hal tercela dan sangat dikutuk. Dua polisi ini menorehkan sejarah kelam di lingkungan kepolisian yang kita banggakan!.

Bahkan puluhan oknum polisi pernah mencoreng citra kepolisian dengan perbuatan terkutuknya atas nama arogansi kekuasaan dengan merendahkan jabatan yang diembannya, menjadikan narkoba sebagai jalan kemewahan melimpah harta tanpa sadar “menghina dirinya sendiri” dalam limbah sampah busuk!.

Perang melawan narkoba sudah didengungkan sejak lama mengingat kian maraknya predarannya, dan kian banyaknya masyarakat sebagai korban pengguna narkoba, hingga disebut  kurir dan bandar. Namun semuanya “basabasi”.

Bahkan Presiden Prabowo Subianto-pun sudah memerintahkan pemberantasan judi online (judol) dan Narkoba atau narkotika. Tapi lontaran Presiden Prabowo hanya dianggap “anginlalu”. Institusi Polri sebagai garda terdepan dalam pemberantasan kasus-kasus narkoba justru “dirusak” oleh oknum-oknum polisi yang mengatasnamakan penegak hukum, namun merobek-robek kepercayaan masyarakat Indonesia. Apa sudah parah kali citra kepolisian? Seenaknya mengakali masyarakat yang katanya penegak hukum justru tampil menjadi “benalu” perusak nama baik kepolisian.

Kita masih trauma, saat polisi-polisi dilapangan menggrebek bandar narkoba dan berhasil menyita barang narkoba, kemudian pertanyaannya? “Siapa mengawasi siapa?,”. Apa masih bisa dipercaya bila penggrebekan itu mulus adanya? Demi Tuhan tidak!!.

Saatnya Pimpinan Kepolisian melakukan “pembersihan” di tubuh Polri agar masyarakat kembali percaya penuh terhadap kepolisian yang amanah dan berwibawa. Bukan polisi yang hanya “mimpi” jadi orang kaya lewat bisnis narkoba!.

Ada pepatah berdengung, bila orang dekat maksiat, pasti cepat atau lambat akan terjerumus dalam kemaksiatannya. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *