Perusahaan Negara Kelistrikan Rugi Terus, Apa Ada “Tikus” Menggrogotinya || Catatan Nazar Husain
NYESEK DADA ini mendengarnya ketika kabar itu mencuat dipermukaan. Katanya Kondisi keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terpuruk karena merugi terus. Jalan lurus itu kini bengkok mengakali akal sehat kita.
Padahal perusahaan negara kelistrikan itu soal uang sangat melimpah, karena setiap bulan rakyat–masyarakat–paling takut kalau menunggak pembayaran listrik. Bisa diancam dicopot kotak listriknya.
PLN termasuk mencatatkan performa yang dinilai kontradiktif dengan statusnya sebagai pemegang hak monopoli bisnis kelistrikan di Indonesia. Tapi kenapa merugi terus?.
Kita, serasa dibodohi. Bodoh karena kurang paham, apa sih fungsi PLN, kita tahunya perusahaan negara itu hampir setiap tahun mengeruk uang rakyat triliun dari pembayaran tagihan listrik. Tapi koq kita dibodohi sih?.
Sebodoh-bodohnya kita, kita taunya perusahaan negara selalu beruntung, dari tagihan listrik, uang masuk dari rakyat, tetapi kenapa merugi terus ungkapnya. Apa ada yang salah, atau ada “jin” ikut campur soal keuangan PLN. Kita hanya urut dada.
Perusahaan pelat merah ini melaporkan lonjakan utang yang signifikan sementara perolehan laba justru mengalami penurunan tajam sepanjang tahun 2024. Darimana ceritanya, utang melilit tubuh listrik itu, sambil tertawa kayak orang bodoh, tak mungkin bisa “bangkrut” karena utang? Dari mana ceritanya?.
Membayangkan saja kita tak bisa. Menghayal pun pasti juga tak bisa, karena apa, masa’ perusahaan negara kelistrikan itu bisa “kolep” alias merugi terus. Gimana caranya, rakyat selalu membayar tagihan listrik setiap bulan, tanpa ada yang nunggak! Nunggak diputus listriknya, seram kan?!
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi mengungkapkan bahwa utang PLN kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan atau “gemoi”.
Berdasarkan data yang dihimpun, total utang PLN pada tahun 2024 telah mencapai Rp711,2 triliun, melonjak Rp56,2 triliun dibandingkan posisi tahun 2023 yang sebesar Rp655 triliun.
Menurut dia, kenaikan utang ini setara dengan Rp4,7 triliun per bulan, atau jika dibedah lebih dalam, utang PLN bertambah sekitar Rp156,7 miliar setiap harinya. Koq bisa?!
Uchok merinci, beban utang tersebut mencakup utang jangka pendek yang naik dari Rp143,1 triliun (2023) menjadi Rp172 triliun (2024).
Sementara itu, utang jangka panjang juga mengalami pembengkakan sebesar Rp27,3 triliun, dari Rp511,8 triliun menjadi Rp539,1 triliun di tahun 2024.
Ironi keuangan PLN semakin terlihat pada pos laba bersih.
Meskipun menguasai pasar tanpa pesaing, laba PLN pada 2024 tercatat merosot hingga Rp17,7 triliun. Angka ini turun drastis sebesar Rp4,3 triliun jika dibandingkan dengan laba tahun 2023 yang mencapai Rp22 triliun.
Kondisi ini dianggap tidak masuk akal mengingat PLN memiliki kendali penuh atas suplai listrik nasional. Uchok menilai ada ketimpangan manajemen yang serius di tubuh perusahaan setrum tersebut. ****
