2026-01-26 22:32

Warong Pariaman di Singapura, Rumah Makan Nasi Padang Tertua Resmi Tutup Setelah 78 Tahun.

Share

HARIAN PELITA SINGAPURA — Bagi masyarakat di Singapura atau warga negara Indonesia namanya “Warong Pariaman” bukan sekadar tempat makan biasa.

Ini adalah sebuah ikon sejarah. Warong Pariaman adalah rumah makan Nasi Padang tertua di Singapura yang terletak di kawasan bersejarah Kampong Glam, tepat di samping Masjid Sultan.

Sejak didirikan oleh Pak Isrin pada tahun 1948, warung ini telah menjadi pusat kuliner Minang paling autentik di Negeri Singa, melayani lintas generasi dengan resep tradisional yang tidak berubah selama puluhan tahun.

Namun, sebuah kabar mengejutkan datang di awal tahun ini. Warong Pariaman secara resmi mengumumkan akan menutup operasionalnya pada 31 Januari 2026. Penutupan ini mengakhiri perjalanan panjang mereka selama 78 tahun sebagai pelopor Nasi Padang di Singapura.

Menteri Singapura Turun Tangan
Berita penutupan ini memicu kesedihan mendalam di tengah masyarakat Singapura.

Bahkan Menteri yang Bertanggung Jawab atas Urusan Muslim Singapura, Assoc Prof Muhammad Faishal Ibrahim, sampai turun tangan mengunjungi langsung keluarga pemilik di Kampong Glam.

Menteri Faishal mengungkapkan rasa terkejutnya dan menyebut bahwa Warong Pariaman adalah bagian dari kenangan masa kecil banyak keluarga di Singapura, termasuk keluarganya sendiri.

Beliau bahkan meminta rekan-rekannya di instansi pemerintah untuk berkomunikasi dengan pemilik guna mencari jalan keluar atau bantuan apa pun yang bisa diberikan untuk masa depan warung legendaris tersebut.

●Mengapa Warong Pariaman begitu spesial?
Sejak tahun 1948, warung ini tetap setia berada di sudut North Bridge Road dan Kandahar Street. Ada beberapa alasan mengapa tempat ini dianggap sangat berharga.

Resep Autentik: Dikenal dengan rendang daging yang dimasak tanpa ketumbar dan jintan, serta lauk khas seperti ayam gulai dan ikan bakar yang rasanya tidak pernah berubah sejak masa pendiri pertama.

Warisan Budaya: Rumah makan ini pernah menerima penghargaan Heritage Heroes Awards 2016 karena dinilai berhasil mempertahankan tradisi kuliner lokal di tengah modernisasi Singapura.

Dedikasi Keluarga: Hingga saat ini, proses memasak masih dilakukan secara telaten mulai pukul 04.00 pagi agar hidangan siap disajikan pada pukul 10.00.

●Respons haru dari warga
Di media sosial, netizen Singapura ramai membagikan kenangan mereka saat makan di sana. Banyak yang merasa kehilangan karena Warong Pariaman sudah dianggap sebagai “jiwa” dari kawasan Kampong Glam.

Beberapa warga bahkan memohon kepada pemerintah agar membantu mengatasi masalah operasional atau sewa tempat supaya rumah makan ini bisa tetap bertahan.

Penutupan Warong Pariaman pada akhir bulan ini menandai berakhirnya sebuah era keemasan kuliner Minang di perantauan Singapura yang telah bertahan hampir delapan dekade. ●Redaksi/Sumber Padang Ekspres (Padek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *