50 Tahun LKB Momentum Perkuat Kolaborasi Jaga Budaya Betawi
HARIAN PELITA — Kehadiran Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) di Ibu Kota Jakarta sejak 50 tahun terakhir bagai oase di padang pasir.
Di tengah kesibukan masyarakat dalam aktivitas ekonomi dan bisnis, LKB eksis sebagai pengawal kebudayaan Betawi dengan segala nilai luhur di dalamnya.
Kerja kebudayaan itu terlihat dalam Pagelaran Seni Budaya Betawi di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026), sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta ke-499 sekaligus puncak perayaan Golden Anniversary atau HUT LKB ke-50.
Mengusung semangat pelestarian budaya di tengah transformasi Jakarta menuju kota global, pagelaran ini menampilkan beragam kesenian khas Betawi, mulai dari tari tradisional, lenong, musik Betawi, hingga keroncong Betawi.
Kegiatan tersebut menjadi refleksi perjalanan LKB selama lima dekade dalam menjaga, mengembangkan, dan memperjuangkan kebudayaan Betawi sebagai identitas utama Kota Jakarta.
Sejak berdiri pada 1976, LKB secara konsisten berperan sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pemajuan kebudayaan Betawi. Berbagai kajian, gagasan, dan rekomendasi yang dihasilkan LKB telah berkontribusi dalam penyusunan kebijakan pelestarian budaya, mencakup seni tradisi, bahasa Betawi, sastra lisan, kuliner, permainan rakyat, pakaian adat, hingga penguatan identitas budaya di ruang publik.
Ketua Umum LKB H Beky Mardani mengatakan usia emas LKB menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta.
“Budaya Betawi sudah teruji mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di Jakarta. Sejak ratusan tahun lalu budaya Betawi hidup berdampingan dengan beragam budaya lain dan mampu berakulturasi tanpa kehilangan jati dirinya,” ujar Beky Mardani.
Menurutnya, status Jakarta sebagai kota global justru menjadi peluang untuk semakin memperkuat eksistensi budaya Betawi sebagai budaya inti Jakarta.
“Ke depan, meskipun Jakarta menjadi kota global, identitas Betawi tetap menjadi tuan rumah di kotanya sendiri. Kami bersyukur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menegaskan bahwa budaya Betawi merupakan budaya inti Jakarta,” katanya.
Beky berharap revisi regulasi pemajuan kebudayaan di Jakarta dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi pelestarian bahasa Betawi, sastra lisan, permainan tradisional, dan berbagai kekayaan budaya lainnya.
Sementara itu, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menegaskan bahwa perjalanan LKB tidak dapat dipisahkan dari peran Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam kebangkitan kebudayaan Betawi.
Yahya mengatakan LKB terus berkomitmen melakukan regenerasi budaya melalui berbagai program edukasi, termasuk menghidupkan kembali tradisi ngebuleng, sohibul hikayat, serta penyelenggaraan Abang None Cilik yang kembali digelar tahun ini bekerja sama dengan PT Pembangunan Jaya Ancol.
“Selama 50 tahun, Lembaga Kebudayaan Betawi telah banyak mendedikasikan program-program kebudayaan bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa. Tahun ini kami juga kembali menghidupkan Abang None Cilik yang sempat lama vakum,” ujarnya.
Sebagai simbol regenerasi budaya, salah seorang finalis Abang None Cilik turut dihadirkan ke atas panggung dan mendapat sambutan hangat dari para penonton.
Pagelaran semakin semarak dengan penampilan para seniman senior Betawi, di antaranya Mak Tonah, Munaroh, Sabar Bokir, Burhan, Opi Kumis, dan Bang Kubil yang membawakan pertunjukan lenong. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan Keroncong Betawi pimpinan Yoyo Muhtar dan dipandu oleh Bang Aden serta Mpo Amira.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012 Fauzi Bowo (Bang Foke) yang mengajak masyarakat Betawi terus menjaga persatuan dan kekompakan.
Kegiatan ini juga dihadiri delegasi Women International Club (WIC) yang beranggotakan para istri duta besar negara sahabat di Indonesia, serta perwakilan Soka Gakkai dari Jepang yang bergerak di bidang perdamaian, kebudayaan, dan pendidikan.
Kehadiran tamu internasional tersebut menjadi bukti bahwa budaya Betawi semakin mendapat perhatian di tingkat global.
Memasuki usia ke-50, Lembaga Kebudayaan Betawi menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat pelestarian, pengembangan, pemikiran, dan regenerasi kebudayaan Betawi. Sejalan dengan visi Jakarta menuju kota global dan menyongsong usia lima abad, LKB optimistis budaya Betawi akan tetap menjadi fondasi identitas Kota Jakarta serta warisan budaya yang terus hidup dan berkembang lintas generasi. ●Redaksi/Dun
