2024-05-07 9:14

Politik Islam Jelang Pemilu 2024 Hingga Isu Lingkungan

Share

HARIAN PELITA — Politik Islam jelang 2024 disampaikan oleh DR. Murtaza Syafinuddin Al Mandar harus memiliki konsep-konsep perhelatan. Ia pun menekankan tentang penyegaran visi hingga disebutkan Syafinuddin yakni proses reorientasi.

Menurutnya, bangsa Indonesia sudah melalui 3-4 gelombang di-era pra kemerdekaan. Lebih lanjut, saat era pra kemerdekaan Indonesia memperlihatkan simbol-simbol Islam baik partai politik maupun organisasi Islam dengan tegas menentang kolonial Belanda.

Simbol-simbol Islam sebelum masa kemerdekaan diutarakannya antara lain Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Masyumi. Kemudian, organisasi Islam lainnya seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU) dan lain-lain.

” Era konstituante pada saat itu ril, bebas dalam konteks gagasan Islam tanpa ada kerisihan. PKI membuka komunis, Masyumi membawa simbol kenegaraan yang intinya keragaman nasionalis,” ungkap Syafinuddin yang juga sebagai Dosen di Jakarta Kamis (13/10/2022).

Disela-sela Diskusi ‘Politik Islam Jelang 2024 Perspektif Lingkungan’ bersama dengan Barisan Nusantara (BN) dan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), Syafinuddin mengatakan awal muncul politik identitas terjadi pada era order baru. Politik identitas menurutnya sengaja dibawa oleh para politisi dengan kepentingan identitas saja.

Sebenarnya, politik identitas yang di gaungkan pada saat itu tak lain hanya membawa tujuan-tujuan dari golongan mereka saja. Kemudian, dia menegaskan perbedaan tentang politik yang berlangsung pada tahun 1955.

Perbedaan tersebut bila dibandingkan dengan politik menjelang 2024 dalam persepektif lingkungan. Bahkan, pada tahun 1955 yang berbeda dikemukakan dalam sidang konstituante.

Syafinuddin menyampaikan perlu reorientasi perihal politik Islam jelang 2024. Adapun, fakta-fakta terbaru diutarakannya yaitu partai Islam yang dimaksud adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat ini. Bila memandang dari perspektif politik Islam ada 3 aspek antara lain simbolistik, formalistik dan substantif.

▪︎Isu Lingkungan Aspek Substantif
Terdiri dari 5 isu global, isu lingkungan di bicarakan pada 5 Juni 1972 di dalam konprensi di negara Swedia. Dalam kesempatan itu, tentang lingkungan di bahas antar lain seperti energi. DR. Murtaza Syafinuddin Al Mandari menyampaikan tidak ada isu-isu luar negeri yang berjalan mulus kecuali energi.

Ia melanjutkan bahwa usia dunia telah mencapai 2 miliar 2 tahun. Dan permasalahan terjadi setelah 200 tahun terakhir. Yang diperlukan saat ini, bagaimana mesin industri dapat berjalan. Syafinuddin menambahkan spesies-spesies agar tidak punah merupakan konsep dasar lingkungan yang perlu dipertahankan.

Satu sama lain menurut dia memiliki ketergantungan dan berkesinambungan. Ia meyakini, perihal industri negara Barat memiliki terhadap Indonesia. Termasuk negara negara Cina.

” Jalannya industri sederhana hanya pada industri menempatkan fakta-fakta material wujud sebenarnya. Yang dimaksud dengan masa depan manusia yang belum terobsesi. Oleh karena itu, manusia banyak tidak percaya adanya Tuhan,” kata Syafinuddin.

Untuk itu, potret Pemilu 2024 di Indonesia dikatakan Syafinuddin begitu penting untuk mempersiapkan gerbang politik. Lanjutnya, 2024 mendatang Indonesia sibuk memperebutkan kursi dan lupa mengingat politik kemandirian dan memprotek negara asing. Tidak hanya itu, Syafinuddin juga menilai negara belum mampu mengembangkan energi alternatif di luar fosil. ●Red/Dw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *