Bahaya Flatfom Media Sosial Bisa Bikin Pemecah Bangsa, Pemerintah Evaluasi Cepat
TREND fitnah menfitnah, caci memaki, tuduh menuduh, bongkaran kasus apa saja terang-terangan dibuka di flatfom media sosial (Medsos) yang berbahaya bagi kelangsungan perdamaian rakyat Indonesia.
Pada flatfom tidak ada lagi aturan main soal etika dan adab, yang sebenarnya kita junjung selama ini. Budaya dan tradisi saling menghormati bisa “dipatahkan” lewat medsos.
Adat istiadat bangsa ini pun luluh karena media sosial. Gosip murahan merajalela tanpa ada filter. Semuanya bisa dilakukan tanpa memakai “otak” yang penting posting sesuai kebencian atau kedengkian. Ajang medsos pun bertengger tanpa batasan, mau itu pejabat, pengamat, atau rakyat jelata bebas memposting sesuka hati.
Disisi lain sebenarnya medsos bila dipergunakan sesuai kaidah dan cara beradab, tidak masalah. Yang bermasalah bila digunakan tanpa etika, membabi buta menyerang karakter orang, lalu kemudian viral, walau pun tak berfakta!.
Contoh polemik soal tudingan Amien Rais menuding Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya memiliki perilaku amoral, Ade Armando, Abu Janda diduga seenaknya memposting pidato Jusuf Kalla, yang ternyata video aslinya dipotong-potong.
Saiful Mujani mendadak viral di media sosial diduga dituduh mendorong upaya menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto dari pemerintahannya. Termasuk contoh lain yang kita nilai sangat berbahaya.
Pertanyaannya, apa pemerintah membiarkan flatfom medsos sangat bebas menerbitkan “berita-berita hoaks” yang akan merusak tatanan berbangsa dan bernegara?.
Apa pemerintah membiarkan perusahaan Meta dan lainya berkiprah seenaknya di Indonesia tanpa mengikuti aturan berlaku. Jangan sampai “cacimaki” di medsos menjadi atau merubah perilaku bangsa Indonesia dipenuhi sifat kekerasan?.
Menurut Ustadz Dr Firdaus Turmudzi, media sosial bisa merubah sifat manusia menjadi tak beretika dan beradab gara-gara media sosial. Mereka, katanya, hsnya berpikir sesaat untuk meluapkan kebencian tanpa berpikir lagi.
“Lho medsos itu bisa merusak tatanan berbangsa dan bernegara lewat medsos. Maka sebaiknya pemerintah mengambil sikap tegas terhadap aplikasi itu,” tegas Firdaus Turmudzi. *****
