2026-05-05 22:58

Krisis Pemuda Urban: Antara Gemerlap Kota dan Kehilangan Arah || Oleh Nanang Jahidin

Share

KOTA-KOTA besar hari ini menawarkan dua realitas yang berjalan beriringan. Di satu sisi, kemajuan pembangunan, teknologi, dan ekonomi membuka ruang luas bagi generasi muda untuk berkembangan.

Namun di sisi lain, di balik gemerlap tersebut, tersimpan persoalan yang tidak kasat mata: krisis arah di kalangan pemuda urban.

Fenomena ini tidak selalu tampak di permukaan. Pemuda terlihat aktif, produktif, dan terkoneksi dengan dunia global. Namun jika dicermati lebih dalam, tidak sedikit yang sesungguhnya sedang mengalami kebingungan eksistensial, bergerak cepat, tetapi tanpa tujuan yang jelas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pemuda (usia 16–30 tahun) di Indonesia mencapai lebih dari 64 juta jiwa atau sekitar seperempat dari total populasi. Di wilayah perkotaan, proporsi ini terus meningkat seiring urbanisasi.

Namun di balik bonus demografi tersebut, terdapat tantangan serius dalam hal kualitas arah dan kesiapan mental generasi muda.

Dalam pengalaman kami di Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DKI Jakarta, persoalan pemuda hari ini bukan semata soal akses terhadap peluang, melainkan soal kemampuan memaknai dan mengarahkan peluang tersebut. Ada tiga dimensi krisis yang menjadi perhatian utama.

Kelimpahan pilihan, kekurangan arah
Lingkungan urban identik dengan banyaknya pilihan. Akses pendidikan, pekerjaan, hingga gaya hidup terbuka lebar. Namun kelimpahan ini tidak selalu berbanding lurus dengan kejelasan arah hidup.

Survei Indonesia Millennial Report menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda Indonesia masih mengalami kebingungan dalam menentukan tujuan karier jangka panjang, meskipun memiliki akses informasi yang luas.
Di sisi lain, penetrasi internet yang tinggi, lebih dari 78% populasi menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, membuat pemuda semakin terekspos pada standar kesuksesan instan di media sosial.

Akibatnya, muncul kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan yang berdampak pada kecemasan dan krisis kepercayaan diri. Kecepatan tanpa arah pada akhirnya hanya memperpanjang kebingungan.

Melemahnya fondasi spiritual
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah melemahnya keterikatan terhadap nilai-nilai spiritual. Ritme kehidupan kota yang cepat sering kali mendorong pemuda untuk lebih fokus pada pencapaian material, sementara aspek batiniah terabaikan.

Laporan We Are Social menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet. Waktu yang besar ini, jika tidak diimbangi dengan aktivitas reflektif dan spiritual, berpotensi memperlemah kedalaman makna hidup.

Dalam konteks kesehatan mental, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan adanya peningkatan gangguan kecemasan dan depresi pada kelompok usia muda dalam beberapa tahun terakhir.

Ini menjadi indikator bahwa ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat fondasi batin generasi muda.

Terbatasnya ruang ekspresi positif
Masa muda adalah fase dengan energi dan kreativitas yang tinggi. Namun sayangnya, tidak semua pemuda memiliki akses terhadap ruang yang memadai untuk menyalurkan potensi tersebut secara positif.

Fenomena tawuran remaja di wilayah perkotaan masih terjadi secara berulang. Data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia di berbagai kesempatan menunjukkan bahwa pelaku konflik sosial jalanan didominasi oleh kelompok usia remaja dan pemuda.

Hal ini tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan penegakan hukum, tetapi juga sebagai tanda kurangnya ruang pembinaan yang efektif.

Ketika energi besar tidak mendapatkan saluran yang tepat, maka risiko penyimpangan akan semakin tinggi. Pemuda bukan kekurangan potensi, tetapi kekurangan wadah.

Membangun ekosistem pembinaan pemuda
Menghadapi kompleksitas tersebut, dibutuhkan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif. Pembinaan pemuda tidak dapat diserahkan pada satu pihak saja, melainkan memerlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, organisasi kepemudaan, dan pemerintah.

Sebagai organisasi berbasis masjid, BKPRMI DKI Jakarta memandang bahwa penguatan karakter, nilai spiritual, dan kapasitas kepemimpinan harus berjalan secara beriringan.


Masjid perlu dihidupkan kembali sebagai pusat aktivitas pemuda yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Di sisi lain, ruang-ruang publik mendukung kreativitas dan partisipasi pemuda juga harus diperluas.

Pemuda perlu diberi kepercayaan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek pembinaan.

Penutup
Krisis pemuda urban adalah tantangan nyata yang tidak boleh diabaikan. Data menunjukkan bahwa kita memiliki jumlah pemuda yang besar, tetapi juga menghadapi persoalan serius dalam arah hidup, kesehatan mental, dan ruang ekspresi mereka.

Masa depan kota sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini. Jika pemuda mampu menemukan arah, memiliki fondasi nilai yang kuat, dan mendapatkan ruang untuk berkembang, maka kota akan tumbuh tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan moral.

Sebaliknya, jika krisis ini dibiarkan, maka kemajuan yang ada hanya akan menjadi ilusi yang rapuh.

Sudah saatnya kita menata kembali arah pembinaan pemuda urban, agar mereka tidak sekadar menjadi penonton dalam pembangunan kota, tetapi menjadi aktor utama yang menentukan masa depannya. Wallahulam
Penulis Ketua Umum BKPRMI DKI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *