Kuliah Umum Dahlan Iskan: Pemimpin Harus Beri Sinyal Jika Sedang Krisis
HARIAN PELITA — Menteri BUMN periode 2011-2014 Dahlan Iskan mengatakan, aspek manajerial dan leadership menjadi kunci kesuksesan perusahaan untuk bisa bertahan di masa krisis.
Seorang pemimpin tertinggi harus mampu mengambil keputusan yang tepat di saat perusahaan memasuki masa-masa yang sulit, termasuk melakukan efisiensi di semua lini.
“Kalau para karyawan tidak paham sedang terjadi krisis, pemimpin yang harus memberikan sinyal jika lagi krisis. Caranya, memangkas bidang atau divisi-divisi yang tidak perlu. Bahkan, saat krisis 1998, saya meminta karyawan untuk tidak belanja hal-hal yang tidak perlu. Bahkan, sekadar membuat pagar rumah saja, saya larang,” kata Dahlan Iskan dalam Seminar Publik “Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Global” diselenggarakan Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina di Jakarta , Selasa 5 Mei 2026.
Aspek manajerial dan leadership yang kuat itulah yang dibawa Dahlan Iskan saat diminta Presiden SBY memimpin PLN. Dahlan lantas menceritakan bagaimana dia melakukan transformasi di PLN.
Direktur Utama PLN periode 2009-2011 tersebut mengakui dia tidak paham bisnis kelistrikan saat awal masuk PLN. Karena itu dia mencari orang internal PLN untuk belajar dari hulu sampai hilir tentang listrik.
“Saya minta syarat saat diminta Pak SBY jadi Dirut PLN. Jajaran direksi harus saya sendiri yang menentukan. Tidak boleh ada direktur titipan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya jika setiap direksi memiliki bos sendiri-sendiri. Biarlah saya menjadi satu-satunya Bos di PLN,” kata Dahlan.
Kata Dahlan, yang akan membuat situasi krisis menjadi semakin sulit adalah jika pemimpin dan karyawan tidak paham jika sedang krisis. Tata kelola perusahaan dilakukan as usual, seperti biasa seperti zaman sebelum krisis.
“Kepekaaan pimpinan saat krisis tidak hanya dalam konteks kepemimpinan perusahaan. Tetapi juga berlaku untuk kepemimpinan negara,” kata Dahlan.
Rektor Universitas Paramadina Prof Dr Didik J. Rachbini mengatakan pengalaman manajerial Dahlan Iskan sejak dari perusahaan media hingga Dirut PLN dan Menteri BUMN bisa menjadi pelajaran yang menarik untuk sekolah-sekolah manajemen di kampus.
“Transformasi yang dilakukan Pak Dahlan di PLN bisa dikaji dengan pendekatan teori-teori manajemen. Pengalaman empiris di dunia bisnis akan memperkaya khasanah keilmuan di bidang manajemen,” kata Didik.
Didik mengatakan, Indonesia harus mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain khususnya negara maju.
Ketertinggalan dalam bidang ekonomi dan peradaban salah satunya bisa disebabkan karena ketertinggalan di bidang pendidikan.
“Ciri negara maju memiliki lebih 1 persen dari total penduduknya doktor. Mengapa harus doktor? Untuk mendorong inovasi dan daya saing ekonomi. Doktor bukan sekadar akademisi, tetapi Peneliti di industri (R&D), policy designer di pemerintah, dan juga konsultan strategis. Negara dengan banyak doktor cenderung tinggi belanja R&D, tinggi produktivitas dan cepat adaptasi teknologi,” katan Didik.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina Prof Dr Ahmad Badawi Saluy mengatakan, kehadiran tokoh nasional dan bisnis seperti Dahlan Iskan akan memperkaya khasanah civitas akademika di kampus dengan pengalaman-pengalaman empiris. “Karena ilmu manajemen itu pada akhirnya diterapkan dalam dunia bisnis dan pemerintahan,” kata Badawi. ●Redaksi/ES
