Hilirisasi Porang Hingga Literasi Digital: Strategi Besar Lombok Timur Perkuat Ekonomi Desa
HARIAN PELITA — Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tancap gas memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan.
Melalui sinergi dengan Pemerintah Provinsi NTB, Bulog, hingga akademisi, Bupati Lombok Timur H Haerul Warisin menegaskan komitmennya untuk mendorong hilirisasi komoditas unggulan dan mencetak “Desa Berdaya”.
Dalam audiensi bersama Dinas Perindustrian Provinsi NTB dan Perum Bulog diruang rapat Bupati, terungkap bahwa Porang kini menjadi primadona baru petani lokal.
Dengan harga mencapai Rp10.200 per kilogram, porang Lombok Timur kini melampaui standar harga Bulog.
Porang dan Kelapa Jadi Incaran Investor
Bupati Haerul Warisin memaparkan bahwa produktivitas porang di Lombok Timur sangat menjanjikan, mencapai 50 hingga 60 ton per hari untuk diolah menjadi tepung.
”Perawatannya mudah dan waktu panennya fleksibel. Ini adalah andalan daerah yang terus kami awasi produksinya agar memberikan nilai tambah bagi petani,”ujar Bupati.
Tak hanya porang, potensi sektor perkebunan kelapa juga mulai dilirik pasar internasional. Investor asal Malaysia dikabarkan menaruh minat besar untuk mengembangkan komoditas kelapa di Lombok Timur. Bupati menyambut terbuka peluang investasi ini demi mengoptimalkan lahan yang selama ini didominasi tanaman kelapa.
Intervensi Strategis di 7 Desa Berdaya
Lombok Timur mengidentifikasi tujuh desa sebagai sasaran utama program Desa Berdaya untuk penanganan kemiskinan ekstrem
Yaitu Desa Tetebatu, Desa Sakra
Desa Pijot, Desa Pringgabaya Utara
Desa Sembalun Bumbung
Desa Pesanggrahan
Desa Lendang Nangka Utara.
Bupati mengusulkan sistem bantuan sembako melalui kartu khusus agar lebih tepat sasaran. Sementara itu, Bulog NTB,nmenyatakan kesiapannya mendukung melalui Gerakan Operasi Pangan Murah di Desa-Desa tersebut.
Kendali Inflasi dan Inovasi Pertanian
Menghadapi fluktuasi harga cabai dan sayuran, Pemkab Lombok Timur melakukan langkah konkret: Pemanfaatan Pekarangan: Mendorong warga menanam cabai secara mandiri. ●Redaksi/LR
