2026-04-21 9:51

Menuju 96 Tahun PSSI, Pengetatan Sanksi Hukuman Pemain, Wasit dan Klub Agar Lebih Ketat

Share

MENUJU 96 tahun Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) wajib berbenah kembali pada sistem regulasi pengetatan hukum pemain, wasit dan klub.

Nama julukan keren Super Leaque pada guliran putaran laga 2025/2026 masih banyak tercoreng oleh ketidakadilan wasit dan petugas VAR. Sehingga menimbulkan kecaman.

Berbagai peristiwa tidak mengenakkan tergambar pada Liga 1, 2, 3 dan 4. Profesionalitas pemain belum cukup memadai memiliki mental profesional serta tak memiliki adab dan etika.

Paling tidak pada lanjutan Super Leaque 2026/2027 mendatang PSSI wajib mempersiapkan sistem regulasi ketat guna meningkatkan kualitas di setiap laga tanpa mengurangi kuantitas.

Sorotan paling rawan adalah wasit. Wasit sebagai pengawas pertandingan kerap bertindak tidak adil, sehingga memunculkan tudingan dan kecaman masyarakat pencinta sepakbola nasional.

Wasit yang kontroversial dalam pertandingan Persib Bandung baru-baru ini. Pertandingan antara Persib Bandung vs Dewa United pada 20 April 2026 di Stadion Internasional Banten menjadi sorotan karena adanya gol kontroversial yang mempengaruhi hasil pertandingan.

Sering juga kita melihat jajaran kepelatihan memasuki garis terlarang lapangan kemudian membentak-bentak wasit dan panitia pertandingan sehingga menimbulkan provokasi memicu emosi suporter.

Bahkan pemain pun saat mendapatkan kartu kuning atau merah, pemain mendorong-dorong wasit memprotes keputusan wasit yang sudah final. Artinya pemain tidak taat pada aturan berlaku. Ini kan terlihat lucu, ketika wasit sudah keputusannya, pemain tak menerima keputusan wasit.

Peristiwa terbaru yang sangat memalukan di EPA U-20, pemain Alberto Henga secara membabi buta melakukan tendangan kungfu ke seorang pemain. Anehnya lagi pelatih juga ikut-ikutan emosional “mengompori” pemainnya.

Bahkan Asisten pelatih sekaligus Direktur Akademi Dewa United Firman Utina mengunggah detik-detik pelatih kiper Bhayangkara FC U-20 yang justru ikut dalam keributan. Menurutnya, Ferdiansyah sama sekali tidak mencerminkan seorang pelatih.

Artinya apa, pemicu keributan yang kerap terjadi karena kurangnya pemahaman regulasi ketat dari PSSI, baik Komisi Wasit dan Komisi Disiplin.

Kita cuma bilang bahwa PSSI kembali menata ulang aturan dan sanksi ketat bagi pemain, wasit dan pelatih agar wajib menjungjung tinggi sportifitas.

Jujur saja, kenapa masyarakat kurang berminat menonton pertandingan Super Leaque atau liga-liga lainnya karena mereka merasa takut bila datang ke stadion. Pasti rusuh!.

Tulisan ini sengaja saya bikin sederhana.Karena betapa pentingnya sebuah pertandingan menjadi tontonan menarik tanpa ada keributan.

Termasuk pemain dan klub mau menerima kekalahan bila kalah. Klub maunya menang setiap pertandingan tak mau kalah. Kan kacau.

Mari kita berkaca pada liga luar negeri. Setiap pertandingan enak ditonton. Kualitas teknik dikedepankan, tanpa merusak jalannya pertandingan dengan niat melukai lawan!.

Menuju 96 tahun PSSI. Mari kita imbau PSSI untuk lebih memperketat aturan-aturan (regulasi) bagi pemain, wasit dan klub. Sehingga setiap laga kita tidak lagi melihat kegaduhan di lapangan ketika pertandingan berlangsung. Itu bos!. ******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *