2026-07-24 21:19

PWI DKI Kritisi Pernyataan Prabowo Menyebut “Jurnalis Londo Ireng”, Kesit: Artinya Belanda Hitam Pengkhianat Bangsa Dong!

Share

HARIAN PELITA — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi DKI Jakarta menyesalkan pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto menyebut kelompok kritis seperti jurnalis, ekonom, pengamat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sebagai “Londo Ireng”.

Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo dengan tegas menyayangkan pernyataan  yang dilontarkan Presiden RI Prabowo Subianto terhadap kalangan jurnalis.

Menurut Kesit Budi Handoyo, secara historis, istilah londo ireng merujuk pada pribumi yang berpihak kepada kepentingan penjajah atau menjadi perpanjangan tangan kolonial.

“Konotasinya mengandung stigma sebagai pihak yang tidak berpihak pada bangsanya sendiri alias pengkhianat,” tukas Kesit, Jumat (24/7/2026)?

 Dikatakan Kesit, penggunaan istilah tersebut kepada jurnalis, akademisi, pengamat, atau LSM berpotensi menimbulkan kesan pelabelan terhadap kelompok yang menjalankan fungsi kritik dalam demokrasi.

“Kami sangat menyayangkan pernyataan Presiden yang mengidentikkan wartawan/jurnalis seperti Londo Ireng  artinya ‘Belanda Hitam’ atau pengkhianat,” kata Kesit kepada sejumlah wartawan, Jumat (24/7/2026).

Padahal, lanjut Kesit, wartawan atau jurnalis juga turut andil dalam berdirinya Indonesia dan mengisi kemerdekaan.  Banyak pendiri bangsa ini yang juga berprofesi sebagai wartawan.

Dijelaskan Kesit,  wartawan harus memiliki sikap kritis terhadap sesuatu apa pun yang terjadi di Tanah Air, termasuk mengkritisi penguasa jika tidak sejalan dengan kehendak rakyat.

Ia menilai pernyataan Prabowo tersebut tidak hanya mencederai kehormatan dan martabat wartawan tetapi juga berpotensi mengganggu kemerdekaan Pers yang dijamin oleh Undang-Undang.

Selain itu, ia mengingatkan kembali bahwa dalam negara demokrasi, kritik dari pers dan masyarakat sipil bukan ancaman, melainkan bagian dari mekanisme checks and balances untuk memperbaiki kualitas kebijakan publik.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pengamat yang kerap melontarkan kritik pesimistis terhadap negara. 

Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi tidak pernah anti terhadap kritik.

Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang dinilainya sengaja mengabdi pada kepentingan asing demi melemahkan bangsa sendiri. Prabowo menganalogikan kelompok ini dengan istilah sejarah “Londo Ireng” pada masa penjajahan Belanda.

“Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada,” ujar Presiden Prabowo ketika acara peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026) lalu.

Prabowo mempertanyakan siapa penyandang dana di balik pihak-pihak yang kerap tampil dengan narasi negatif tersebut. Apalagi saat ini kondisi ekonomi secara umum sedang menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja.

“Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan,” ketus Presiden Prabowo.

Prabowo menilai kelompok-kelompok tersebut secara masif menyebarkan kampanye untuk menggoyahkan mental bangsa. Salah satunya adalah narasi berulang yang memprediksi bahwa Indonesia akan segera runtuh atau kolaps.

Prabowo menganalogikan pihak-pihak yang terus menurunkan moral bangsa sendiri di tengah upaya perbaikan layaknya pendukung sepak bola yang tidak waras. ●Redaksi/Dw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *