2024-07-08 14:22

Ketua Umum PSB Pardan Akan Lestarikan Kesenian Kuda Lumping di Jakarta

Share

HARIAN PELITA — Kuda lumping alias Ebeg adalah kesenian tradisional daerah Purwokerto, Banyumas dan sekitarnya dan menjadi warisan budaya sehingga perlu dilestarikan para pelaku seni tradisional.

Ketua Umum Paguyuban Seni Banyumasan Pardan mengatakan, maksud dan tujuannya saat ini ingin  mengembangkan  seni Ebeg semakin masif.

“Ini perlu kami tata agar kesenian  Ebeg semakin berkembang dan terukur dalam rangka melestarikan kesenian tradisional Banyumas,” katanya.

“Didirikan Paguyuban Seni Banyumasan (PSB) untuk wadah bagi pelaku seni, penggiat seni dan penikmat seni di seluruh wilayah Jawa pada umumnya di  Indonesia. Serta untuk menjalin tali silaturahmi serta mempererat persaudaraan, menjaga keutuhan kesenian Banyumasan. Sehingga menciptakan kesenian Banyumasan yang bermartabat dan menjujung tinggi  nilai-nilai luhur kebudayaan banyumasan,” ujarnya.

Dikatakannya, tujuan PSB menjaga keutahan seni budaya banyumasan, wadah penyalur aspirasi dan inspirasi sesuai kepentingan kesenian banyumasan, pembinaan dan membimbing generasi penerus Kesenian Banyumasan,  dan tidak kalah pentinganya yakni memajukan kelestarian kesenian Banyumasan.

Paguyuban Seni Banyumasan dipimpin Pardan selaku Ketua Umum PSB banyak perkebanganya seperti kegiatan, mengadakan pengenalan, pelatihan kesenian Banyumasan,  melakukan pertunjukan Kesenian Banyumasan, dan sering bekerjasama dengan sanggar-sanggar Kesenian Banyumasan di DKI Jakarta.

Tidak luput dengan kegiatan sosial terhadap pelaku seni, penggiat seni dan penikmat seni Budaya Banyumasan.

Belum lama ini melakukan   kegiatan sosial seperti bedah rumah, santunan terhadap pelaku seni, penggiat seni dan penikmat seni Budaya Banyumasan.

Paguyuban Seni Banyumasan sebenarnya sudah terbentuk  kepengurusannya di DKI Jakarta masa bakti 2023-2028 yakni  Ketua Umum Pardan, Sekretaris Iyan Subekti, Bendahara Imam Jaelani.

PSB  beranggotakan aktif sekitar 150  orang di DKI Jakarta dari berbagai latar belakang itu antara lain menjadikan tontonan serta  tuntunan kehidupan yang lebih baik dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian menjaring anggota yang seiya sekata tidak ada paksaan dan sanggup menjadi anggota yang memiliki jatidiri berwibawa dan berjiwa nalendra (satria). ●Redaksi/Sugeng Bariadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *