2026-07-19 22:06

Dosen Budi Luhur University Bekali Guru dan Jemaah Majelis Taklim Cara Kenali Hoaks Berbasis AI

Share

HARIAN PELITA — Arus informasi digital yang semakin deras menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat. Bukan lagi sekadar membedakan berita benar dan salah, tetapi juga menghadapi disinformasi yang kini semakin canggih dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim dosen Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif (FKDK) Budi Luhur University (BLU) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Sosialisasi Literasi Media Melalui Edukasi Anti Hoaks untuk Guru dan Majelis Taklim di Madrasah Diniyah Salafiyyah Al-Ihsan”, yang diselenggarakan pada Minggu (19/7/2026) di Madrasah Diniyah Salafiyyah Al-Ihsan, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.

Kegiatan ini menghadirkan empat dosen FKDK BLU sebagai narasumber, yakni Dr. Rachmi Kurnia Siregar, M.I.Kom., Harningsih, S.I.Kom., M.I.Kom., Danang Soeminto, S.Sos., M.I.Kom., dan Rama Romindo Utomo, S.H., M.I.Kom.

Tim dosen tersebut mengajak para guru dan anggota Majelis Taklim yang berjumlah sekitar 25 orang untuk memahami pentingnya literasi media sebagai bekal menghadapi banjir informasi yang semakin sulit dibedakan antara fakta dan rekayasa.

Pengasuh Madrasah Diniyah Salafiyyah Al-Ihsan, KH. Ahmad Labanin Thahar serta Ketua Majelis Taklim, Tri Waryanti mengapresiasi kegiatan literasi media ini.

Mereka mengatakan, edukasi mengenai anti hoaks ini dinilai penting terutama untuk kaum Ibu rumah tangga yang rentan menjadi sasaran berita palsu saat ini.

Ketua tim pengabdian Dr Rachmi Kurnia Siregar, M.I.Kom., mengatakan bahwa masyarakat saat ini dibanjiri informasi dari berbagai platform digital. Situasi tersebut membuat kemampuan berpikir kritis menjadi kompetensi yang harus dimiliki setiap orang.

“Saat ini masyarakat bukan lagi mencari informasi, tetapi dibanjiri oleh informasi. Persoalannya, tidak semua informasi yang diterima dapat dipercaya. Karena itu, literasi media menjadi keterampilan dasar agar masyarakat mampu menyaring informasi sebelum mempercayai dan membagikannya kepada orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Harningsih, S.I.Kom., M.I.Kom menjelaskan bahwa gangguan informasi tidak hanya berbentuk hoaks. Masyarakat sepatutnya memahami perbedaan antara misinformasi, yaitu informasi yang keliru tetapi disebarkan tanpa niat menyesatkan; disinformasi, yakni informasi yang sengaja direkayasa untuk memanipulasi opini publik; serta malinformasi, yaitu informasi yang sebenarnya benar, tetapi disebarkan dengan tujuan merugikan pihak tertentu.

Pemahaman terhadap ketiga bentuk gangguan informasi tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam berbagai narasi yang beredar di media digital.

Di sisi lain, Danang Soeminto, S.Sos., M.I.Kom., mengingatkan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) mengubah wajah penyebaran hoaks.

Teknologi deepfake dan voice cloning memungkinkan seseorang memalsukan wajah maupun suara tokoh publik sehingga tampak sangat meyakinkan. Konsekuensinya, video atau rekaman suara tidak lagi dapat langsung dijadikan bukti kebenaran tanpa proses verifikasi terlebih dahulu.

“Kecanggihan AI membawa tantangan baru. Sekarang kebohongan dapat tampil dalam bentuk gambar, video, bahkan suara yang terlihat sangat nyata. Karena itu, masyarakat tidak boleh langsung percaya hanya karena melihat sebuah video viral. Verifikasi dari sumber resmi tetap menjadi langkah yang paling penting,” jelasnya.

Sebagai penutup Rama Romindo Utomo, S.H., M.I.Kom menjelaskan bahwa hoaks umumnya memiliki ciri-ciri yang mudah dikenali.

Ciri-ciri tersebut antara lain menggunakan sumber anonim yang tidak kredibel, judul yang bombastis dan provokatif, serta ajakan emosional untuk segera menyebarkan informasi tanpa memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melakukan pengecekan fakta.

Dalam sesi edukasi, peserta diperkenalkan dengan langkah-langkah sederhana untuk melakukan verifikasi informasi. Langkah tersebut di antaranya menahan respons emosional ketika menerima informasi yang menghebohkan, memeriksa kredibilitas sumber, membandingkan informasi dengan media atau lembaga pemeriksa fakta yang terpercaya, serta tidak meneruskan informasi apabila belum terbukti kebenarannya.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim dosen FKDK Budi Luhur University berharap para guru dan anggota majelis ta’lim dapat menjadi pelopor literasi media di lingkungan masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada peserta didik, keluarga, dan masyarakat sehingga tumbuh budaya bermedia yang lebih kritis, bertanggung jawab, dan tidak mudah terpengaruh oleh hoaks maupun disinformasi di era kecerdasan buatan. ●Redaksi/DNH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *