2026-07-19 16:23

Satu Dekade Alunan Budaya Pringgasela: Menghentak KEN 2026 dengan Spirit ‘Srimananti’ dan Kain Tenun

Share

HARIAN PELITA — Menembus satu dekade perhelatan, Alunan Budaya Desa Pringgasela kembali membuktikan diri sebagai magnet budaya di Lombok Timur. Membuka kalender event tahunannya pada Ahad (19/07/22026).

Festival kini resmi masuk dalam kalender elite nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini langsung menghentak lewat aksi Car Free Day dan jalan santai massal yang dipusatkan diikon sejarah, Tugu Juang Pringgasela Raya (Tugu Mopra).

Kemeriahan pembukaan ini kian bernilai strategis dengan kehadiran Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, yang melepas langsung ribuan peserta jalan santai.

Srimananti: Simbol Harapan dan Kuasa Perempuan Penenun Tahun ini, Alunan Budaya Desa Pringgasela tidak sekadar menjadi pesta rakyat biasa.

Mengusung tema “Srimananti”, festival ini membawa pesan filosofis mendalam. Tema tersebut merepresentasikan harapan besar, peran sentral perempuan, serta penegasan identitas tenun khas Pringgasela yang telah mendunia.

Dalam sambutannya sebelum melepas peserta, Wakil Bupati Edwin Hadiwijaya tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Ia menilai Pringgasela adalah role model Desa yang berhasil mengawinkan potensi ekonomi kreatif dengan kelestarian adat.

“Kegiatan ini menunjukkan bahwa Pringgasela tidak hanya diberkahi dengan kain tenun yang indah, melainkan juga memiliki masyarakat yang luar biasa kompak dalam menjaga akar adat dan budayanya, “puji Wabup Edwin disambut gemuruh tepuk tangan warga.

Pemda Garansi Dukungan Penuh untuk Event Berbasis Warga
Di tengah riuhnya suasana, orang nomor dua di Lombok Timur itu menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah untuk terus mengawal dan mendukung event-event berbasis masyarakat. Menurutnya, fondasi utama pembangunan daerah ada pada kerukunan warga itu sendiri.

“Pemerintah daerah akan selalu mendukung kegiatan positif berbasis kemasyarakatan seperti ini. Pembangunan Lombok Timur tidak akan berjalan lancar tanpa adanya masyarakat yang sehat, rukun, dan optimis seperti warga Pringgasela, “tegas Edwin.

Lebih dari sekadar aktivitas fisik yang menyehatkan, momentum jalan sehat ini dinilai menjadi ruang silaturahmi yang cair untuk mempererat kebersamaan dan persaudaraan. Ditambah lagi dengan taburan doorprize, atmosfer kegembiraan begitu terasa disepanjang rute. Wabup juga mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kebersihan dan ketertiban sepanjang acara.

Seminggu Penuh Pesta Budaya
Bagi para pemburu visual dan penikmat budaya, Alunan Budaya Pringgasela 2026 baru saja dimulai. Festival ini dijadwalkan akan memanjakan pengunjung selama seminggu penuh, mulai 19 hingga 25 Juli 2026.

Sejumlah agenda besar telah mengantre untuk menghibur publik, diantaranya:
Community Show dan Karnaval Ceria
Khizib Akbar (sisi spiritualitas, masyarakat). Pesta Kuliner Tradisional, Karnaval Tenun (panggung utama mahakarya Pringgasela)
Konser Musik sebagai puncak selebrasi.

Satu dekade Alunan Budaya bukan lagi sekadar pesta desa, melainkan panggung pembuktian bagaimana tenun, perempuan, dan tradisi mampu mengangkat martabat daerah ke pentas nasional,” tandasnya. ●Redaksi/Pan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *