2026-07-03 11:52

FBS Unas Gelar Seminar Nasional, Perkuat Pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional 2026

Share

HARIAN PELITA — Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (FBS Unas) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana (STA): Kontribusi bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia” di Auditorium Cyber Unas, Pejaten, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

Seminar ini menjadi bagian dari upaya Unas dalam menghimpun dukungan akademik sekaligus memperkuat pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026.

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 300 peserta tersebut mempertemukan akademisi, budayawan, sejarawan, tokoh masyarakat, dosen, mahasiswa, guru, hingga pelajar SMA untuk mengulas secara komprehensif kontribusi STA terhadap perjalanan bangsa Indonesia.

Seminar juga menjadi ruang akademik untuk menghimpun gagasan, data, serta perspektif ilmiah mengenai jasa-jasa STA di bidang bahasa, sastra, pendidikan, dan kebudayaan sebagai bahan pendukung pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Unas, Dra. Nana Yuliana, M.A., M.Si., Ph.D., selaku Ketua Panitia, mengatakan bahwa seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap pemikiran dan perjuangan STA yang hingga kini masih relevan dalam pembangunan karakter bangsa.

“Seminar ini bertujuan menggali kembali kontribusi Sutan Takdir Alisjahbana dalam bidang bahasa, sastra, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia maupun internasional. Melalui forum ilmiah ini kami ingin menghadirkan berbagai perspektif akademik yang dapat memperkuat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Menurutnya, STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam memodernisasi bahasa Indonesia hingga menjadi bahasa persatuan bangsa. Pada masa pendudukan Jepang, STA menjadi tokoh pertama yang menyusun Tata Bahasa Indonesia secara sistematis serta memperkenalkan kaidah MD (Menerangkan–Diterangkan) dan DM (Diterangkan–Menerangkan) yang memberikan struktur yang lebih jelas bagi perkembangan bahasa Indonesia.

Tidak hanya di bidang bahasa, STA juga meninggalkan warisan penting dalam dunia sastra melalui karya-karya monumental seperti Layar Terkembang, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan Kalah dan Menang.

Gagasan-gagasannya melalui gerakan Pujangga Baru serta Polemik Kebudayaan turut membentuk arah perkembangan pemikiran kebudayaan Indonesia yang hingga kini dinilai masih relevan, terutama dalam menghadapi tantangan global dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Dalam  bidang pendidikan, STA turut berjuang memperluas akses pendidikan tinggi pada masa kolonial Belanda serta mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan nasional.

Seminar dibuka secara resmi oleh Menteri Sosial Republik Indonesia, Drs. H. Saifullah Yusuf, yang menegaskan bahwa kepahlawanan tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui pemikiran dan gagasan yang membawa perubahan besar bagi bangsa.

Ia mengatakan bahwa STA merupakan sosok yang berhasil mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern sekaligus bahasa ilmu pengetahuan. Menurutnya, jasa tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi, pendidikan, dan pelayanan publik di Indonesia. ●Redaksi/Rls08

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *