CLBK Hadirkan Romansa Usia Senja, Slamet Rahardjo dan Widyawati Adu Akting Penuh Emosi
HARIAN PELITA — Di tengah dominasi film horor dan kisah percintaan anak muda di bioskop Indonesia, MIR Productions menghadirkan pendekatan berbeda melalui film CLBK (Cinta Lama Babak Kedua).
Film drama romantis ini mengangkat kisah cinta yang kembali tumbuh di usia senja dan dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 Juli 2026.
Disutradarai sekaligus ditulis Ivander Tedjasukmana, CLBK memadukan drama keluarga, romansa, dan komedi dalam satu alur yang menghubungkan dua generasi.
Kisahnya berpusat pada Abi dan Sita, dua mantan kekasih yang dipertemukan kembali setelah puluhan tahun berpisah.
Tokoh Abi diperankan Slamet Rahardjo, sementara Sita dimainkan Widyawati. Chemistry keduanya menjadi kekuatan utama film yang menyajikan kisah cinta dengan sudut pandang yang jarang diangkat dalam perfilman Indonesia.
Pertemuan kembali Abi dan Sita bukan hanya membangkitkan kenangan lama, tetapi juga memicu konflik baru yang berdampak pada hubungan cucu mereka, Raka dan Ambar, yang tengah mempersiapkan pernikahan.
Konflik lintas generasi itu menjadi benang merah cerita yang membawa penonton pada persoalan tentang cinta, pengampunan, dan keluarga.
Kisah masa muda Abi dan Sita pada era 1970-an diperankan Yusuf Mahardhika dan Gisellma Firmansyah.
Kehadiran keduanya memperkaya alur cerita dengan memperlihatkan bagaimana perjalanan cinta di masa lalu memengaruhi kehidupan para tokohnya di masa kini.
Film ini juga dibintangi Sintya Marisca sebagai Ambar dan Iskak Khivano sebagai Raka. Selain itu, Sarah Sechan, Kiki Narendra, Iyang Dharmawan, Febry Khey, dan Annisa Kaila turut memperkuat dinamika cerita.
Dalam konferensi Pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026, sutradara Ivander Tedjasukmana mengatakan CLBK merupakan proyek yang telah lama ia simpan sebelum akhirnya diproduksi.
“Film ini sudah lama tersimpan dalam library saya, hampir 10 tahun. Baru mendapat kesempatan tahun lalu untuk diproduksi dan akhirnya tayang pada 2026 ini,” katanya.
Ivander mengaku pengalaman mengarahkan Slamet Rahardjo dan Widyawati menjadi salah satu momen paling berkesan selama proses produksi.
“Men-direct dua orang senior dalam satu frame menjadi tantangan tersendiri. Tapi mereka sangat profesional. Saya belajar banyak dari Pak Slamet Rahardjo dan Ibu Widyawati,” ujarnya.
Co-Producer sekaligus Founder MIR Productions, Vladimir Rama, menilai CLBK menawarkan premis yang berbeda dibandingkan kebanyakan film Indonesia. Menurut dia, kisah yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan masyarakat meski jarang diangkat ke layar lebar.
Ia juga menegaskan bahwa film ini tidak hanya menghadirkan drama emosional, tetapi juga dibumbui komedi yang membuat cerita terasa ringan dan menghibur.
CLBK mengisahkan Raka dan Ambar yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika mengetahui nenek dan kakek mereka ternyata pernah menjalin hubungan asmara di masa muda. Luka lama yang kembali terbuka membuat hubungan kedua keluarga memanas hingga mengancam rencana pernikahan mereka.
Situasi berubah saat Abi dan Sita kembali bertemu di Bandung. Upaya keluarga untuk mendamaikan keduanya justru membuat benih-benih cinta lama kembali tumbuh. Romansa yang kembali bersemi di usia senja itu menghadirkan dilema baru yang mengubah masa depan hubungan Raka dan Ambar.
Melalui tema tentang kesempatan kedua dalam cinta, pentingnya memaafkan masa lalu, dan eratnya ikatan keluarga, CLBK menawarkan pengalaman menonton yang hangat sekaligus emosional.
Film ini menjadi salah satu drama romantis Indonesia yang menghadirkan perspektif baru dengan menempatkan kisah cinta para kakek dan nenek sebagai pusat cerita, sesuatu yang masih jarang ditemui di perfilman nasional. ●Redaksi/SAT
