2026-07-20 4:26

Anne J Coto Ungkap Trauma Kehilangan Anak di Balik Film Horor Juminten Edan, Aktingnya Bikin Merinding

Share

HARIAN PELITA — Aktris senior Anne J Coto membongkar kisah emosional di balik keterlibatannya dalam film horor terbaru Juminten Edan.

Pemeran karakter Zalma itu mengaku nyaris tak mampu membendung air mata saat menjalani proses syuting karena peran yang dimainkan sangat dekat dengan pengalaman pahit dalam kehidupan pribadinya.

Anne mengungkapkan, kesempatan bergabung dalam film tersebut datang secara mendadak. Sejak pandemi Covid-19 ia lebih banyak menetap di Bali. Pada Juli 2025, dirinya menerima tawaran bermain di Juminten Edan tanpa melalui proses casting. Sebulan kemudian, proses syuting langsung dimulai.

“Semuanya berjalan sangat cepat. Saya hanya dihubungi lewat telepon, tanpa casting sama sekali. Sutradara sudah mengenal saya sejak lama karena pernah menjadi director dan menyutradarai sinetron Gajah Mada. Beliau sudah memahami karakter akting saya dan yakin tokoh Zalma memang harus saya yang memerankannya,” ujar Anne kepada Satria Sabil di sela Gala Premiere film Juminten Edan, Kamis (16/7/2026).

Bagi Anne, memerankan Zalma bukan sekadar menjalankan profesi sebagai aktris. Karakter tersebut justru membangkitkan kembali luka lama yang selama ini tersimpan rapat dalam hidupnya.

“Saya seorang ibu. Saat mendalami karakter Zalma, saya teringat ketika harus berpisah dengan anak pertama saya yang dibawa ayahnya ke Amerika. Itu menjadi salah satu momen paling berat dalam hidup saya. Setiap membayangkan kehilangan anak, air mata saya selalu mengalir. Karena itu cerita di film ini sangat relate dengan kehidupan saya dan mungkin juga banyak ibu di luar sana,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Menurut Anne, kekuatan utama Juminten Edan bukan hanya terletak pada adegan-adegan horor yang menegangkan, tetapi juga pada kisah keluarga yang sarat pesan moral. Film ini mengangkat besarnya kasih sayang seorang ibu serta pentingnya menjaga keharmonisan hubungan dalam keluarga.

“Film ini mengajarkan bahwa sebagai orang tua, terutama ibu atau mertua, jangan terlalu mendominasi kehidupan rumah tangga anak-anak. Cinta harus menjadi yang utama. Biarkan mereka menentukan jalan hidupnya sendiri dan tetap dukung kebahagiaan mereka, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan kita,” jelasnya.

Demi menghasilkan akting yang kuat, seluruh pemain menjalani proses reading intensif selama kurang lebih satu minggu. Anne menilai latihan tersebut menjadi kunci terbentuknya chemistry antarpemeran sehingga setiap adegan emosional mampu tersampaikan secara maksimal.

“Reading kami sangat intens. Hampir seminggu kami terus berlatih bersama hingga chemistry antarpemain benar-benar terbangun. Itu sangat membantu ketika memasuki adegan-adegan yang emosinya sangat dalam,” katanya.

Meski mengusung genre horor dengan lokasi syuting yang memiliki nuansa mistis, Anne memastikan proses produksi berjalan lancar tanpa adanya gangguan supranatural yang dialami para pemain.

“Tidak ada pemain yang mengalami kesurupan atau gangguan mistis. Namun rumah produksi memang sudah mengantisipasi semuanya dengan menghadirkan orang yang ahli di bidang spiritual. Selama syuting kami juga sering mencium aroma kemenyan dan ada paranormal yang mendampingi proses produksi sebagai langkah antisipasi,” ungkapnya.

Menutup wawancara, Anne berharap Juminten Edan mampu menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda bagi penonton Indonesia. Menurutnya, film tersebut tidak hanya menawarkan teror yang mencekam, tetapi juga memadukan drama keluarga, aksi, unsur mistis, dan thriller dalam satu sajian. ●Redaksi/Satria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *